Blog EntryKecelakaan Di Hari BahagiaApr 12, '07 10:33 PM
for everyone
Rona kebahagiaan terang memancar dari wajah kedua orangtuaku pada hari itu. Hari ketika kedua orangtuaku yang berprofesi sebagai guru SD akan menerima balasan atas jasa mereka mendidik dan mengajar anak-anak didiknya. Ya, mereka akan menerima gaji bulanan.

Gaji bulanan mereka akan diterima langsung dalam bentuk uang tunai. Bukan ditransfer melalui nomer rekening bank. Untuk itu mereka diharuskan datang langsung ke kantor mereka yang berada di kota kecamatan Mungkid. Letaknya kurang lebih sepuluh kilometer dari kabupaten Magelang. Jarak antara rumah kedua orangtuaku dengan kecamatan Mungkid kurang lebih sekitar enam kilometer. Jarak sejauh itu biasanya mereka tempuh dengan mengendarai sepeda motor vespa milik bapak.

“Nanti bapak dan ibu pulang agak sore ya anak-anak, karena kami harus ke kecamatan dulu mengambil gaji” begitu pesan ibu sebelum anak-anaknya berangkat sekolah. “Jangan lupa oleh-olehnya ya bu..” jawab kami serempak. Saat itu aku dan adikku masih dibangku SD sementara kakakku sudah SMP. Seperti halnya orangtuaku yang menganggap tanggal 3 adalah tanggal istimewa, kamipun begitu. Karena setiap bapak dan ibu pulang dari mengambil gaji, kami selalu mendapat jatah oleh-oleh makanan jajanan pasar kesukaan kami. Sate telur puyuh, klepon , thiwul dan getuk, itulah jajanan kesukaan kami.

Setelah gaji berada di tangan kedua orangtuaku, mereka pun pergi ke pasar kecamatan. Sabun, gula, terigu dan kebutuhan-kebutuhan pokok bulanan lain segera mereka dapatkan. Tak lupa jajan pasar untuk oleh anak-anaknya, ada sate telur puyuh, getuk, thiwul dan makanan-makanan kampung lainnya. Karena hari sudah mulai sore, dengan berboncengan vespa ibu dan bapak segera beranjak pulang.

Suasana jalan menuju pasar kecamatan itu begitu ramai, mungkin banyak orang yang baru saja menerima gaji langsung berbelanja di pasar seperti halnya ibu bapakku. Sepeda motor dan mobil lalu-lalang berdesak-desakan. Yang berjalan kaki pun tak mau kalah ramainya. Hiruk pikuk memekakkan telinga, menambah suasa kian sumpek tak terkira.

Tiba-tiba sebuah sepeda motor dari belakang menyenggol pelan vespa bapak, meski pelan senggolannya dan tidak menimbulkan suara, namun ternyata senggolan itu membuat ibu terjatuh dari boncengan motor vespa bapak. Ibu jatuh terduduk di jalan raya sambil memegangi belanjaannya. Karena masih kaget dengan kejadian itu ibu tidak bisa bangkit serta-merta. Butuh beberapa saat untuk mengembalikan kesadarannya. Alangkah kagetnya ibu, ketika menyadari ternyata motor vespa bapak tidak berada di dekat situ.

Parahnya, ternyata bapak sama sekali tidak menyadari kalau ibu terjatuh, bapak dengan sepeda motor vespanya melaju begitu saja seolah tak terjadi apa-apa. Ajaib memang, tapi begitulah yang terjadi saat itu. Beberapa orang yang melihat kejadian itu berteriak memanggil bapak “Pak…Pak , Itu lho istrinya jatuh” , namun bapak sudah berada jauh dari tempat kejadian, beliau tak mendengar panggilan itu. Suara lalu-lalang kendaraan dan bisingnya pasar telah mengaburkan teriakan-teriakan itu sehingga bapak sama sekali tak mendengarnya.

Ibu ditolong oleh beberapa orang di sekitarnya. Sambil merapikan belanjaan yang berserakan, ibu hanya meringis sembari tersenyum-senyum sendiri melihat sang suami melaju dengan cueknya. Orang-orang yang menolongnya ikut-ikutan senyum-senyum menyaksikan kejadian itu. “Sudahlah bu, naik angkot saja, bapak udah jauh tuh, ngga mungkin bisa mendengar teriakan kita, ibu tidak apa-apa kan?” kata salah seorang diantara mereka. “Alhamdulilah, saya tidak apa-apa kok, cuma agak kaget saja tadi” jawab Ibu.

Sementara itu bapak yang sama sekali tak mengetahui kejadian itu, masih saja asyik bercerita. Meski cerita hanya berjalan satu arah dan tak ada tanggapan dari pihak lawan bicara, tapi bapak acuh saja. Mungkin ibu sedang tak punya kata untuk menanggapinya, begitu pikirnya. Beberapa orang yang melihatnya lewat sempat melemparkan pandangan aneh keheranan, tapi bapak tetap tak memedulikannya. Dia hanya membatin, apakah suaraku terlalu keras sehingga dilihat aneh oleh orang-orang di jalan itu? Ah kalau aku tidak keras bersuara nanti Ibu tidak dapat mendengarnya. Lantas beliau acuh saja dan terus melanjutkan ceritanya lagi.

Kurang lebih satu kilometer sebelum sampai rumah, rupanya bapak semakin penasaran kenapa begitu banyak orang yang melihatnya di jalan dan menatapanya dengan tatapan aneh. Beliau tak kuasa untuk menanyakan pendapat istrinya akan hal itu, dan beliau berujar :”Bu, kok orang-orang itu melihat kita dengan tatapan aneh ya?, apa suaraku terlalu keras to?”. Suasana hening, diam, tak ada jawaban. Dan beliaupun bertanya lagi dengan suara yang makin dikeraskan “Bu, Ibu.. suaraku keras ngga sih? Itu lho kok banyak yang melihat dengan tatapan aneh …” Diam tak ada jawaban lagi. Lantas buru-buru bapak menoleh ke belakang.

Kaget bukan kepalang, itu yang dirasakan bapak ketika melihat di boncengan belakang tak ditemukan ibu disana. Meski kaget dan heran beliau tetap melajukan motor vespanya. Sesampai di rumah beliau baru menceritakan keheranannya kepada kami anak-anaknya.”Oalah. pantas saja orang-orang itu melihat aneh ke bapak, lha bapak dari tadi ngomong dan teriak-teriak sendiri kok.. mungkin mereka mengira bapak orang yang kurang waras ya..” kata bapak setelah menyadari kejadiannya. Kami tertawa mendengar perkataan bapak itu sekaligus merasa khawatir akan nasib ibu, karena kami masih belum tahu kenapa tiba-tiba ibu menghilang dari boncengan bapak.

Kurang lebih sepuluh menit kemudian, sebuah angkot berhenti di depan rumah. Kebetulan rumah kami berada tepat di pinggir jalan raya. Dari kejauhan tampak ibu turun dari angkot. Sambil menenteng belanjaannya, ibu tersenyum lebar kepada kami. Aku dan adikku berhamburan lari keluar menyambut ibu. Bapak segera menyusulnya. “Bapak ini gimana sih, tadi ibu jatuh dari boncengan kok ngga tahu?” kata Ibu langsung menembak bapak. “Aduh maaf bu, bapak bener-bener ngga tahu kalau ibu jatuh, lha wong sepanjang perjalanan aja bapak masih ngobrol panjang lebar kok, kupikir ada ibu di boncengan, ternyata bapak ngomong sendirian “ Bapak menjelaskan keadaan. Bapak sudah takut akan dimarahi oleh ibu. Ternyata ibu malah tertawa mendengar penjelasan bapak tadi. Dan meledaklah tawa meriah di rumah kami saat itu.


23 CommentsChronological   Reverse   Threaded
mutawalli wrote on Apr 12, '07
ehehhehe.. kisah siapa tuh mbak?? kisah nyatanya mbak??
ummiikhsan wrote on Apr 12, '07
Hahaha... aku ketawa nih... bener-2 lucu ya... thanks mbak udah share ceritanya... ;-))
nengeuis wrote on Apr 12, '07
awalnya kirain cerita sedih ternyata eh ternyata ;))
sophie4519 wrote on Apr 12, '07
ya ampun :) ^_^
shofadarda wrote on Apr 12, '07
hihihihi....sang bapak terlalu serius memandang ke depan kali yaa :D
bundaulum wrote on Apr 12, '07
Cerita simple yang dikemas dengan apik.....bagus mbak...:D
ianaja wrote on Apr 12, '07
:D
ardhanamesvari wrote on Apr 12, '07
hehehehehe.....dah baca dimilis, dibaca lagi disini masih lucu aja :D
sya2 wrote on Apr 12, '07
maaf ya semua, kalo kepanjangan ceritanya. soalnya itu cerita yang aku ikutkan seleksi di edisi humor-kehidupan di milis sekolah-kehidupan.
Lucu ngga sih? kalo aku yang ngalami sih lucu rasanya :D , tapi kalau orang yg baca gak tauu dehh..secara masih belajar nulis :d
tianarief wrote on Apr 12, '07
:)) memangnya, nggak terasa jadi enteng boncengannya?

persis seperti kejadian dua temanku, waktu mau menuju kantor, setelah menemui narasumber, temanku itu loncat dari boncengan karena jalanan menanjak, dan motor nggak kuat. begitu mau naik lagi, motor terus melaju sampe kantor. :)
nandae wrote on Apr 12, '07
kok bisa nggak terasa ya si Bapak itu? Padahal kan Ibu juga ga kurus ya Mba? :D
Hampir sama ama kejadian adikku "pas itu masih TK" yang dulu ketinggalan di Jogja, mosok dulu tuh si Bapak baru ngeh pas nyampe rumah kalo anak yang diboncengnya ga ada :D. Padahal Jogja ke rumah kan jauh, 45 menit klo naik motor. Ternyata dianya ketinggalan di sebuah SPBU di Jogja, dan pulang2 diantar polisi :D, hihihihi...
sya2 wrote on Apr 12, '07
hooh..itu bener2 kisah nyata kok.. ajaib memang, tapi ngga dibuat-buat lho.. hehehe
fetryz wrote on Apr 12, '07
ooowww........
;p
ummuauliya wrote on Apr 12, '07
hihihihi lucu lucu... jadi inget ada yg pernah cerita kejadian yg hampir sama gitu juga... kekekekekek
thetrueideas wrote on Apr 13, '07
yang begini juga terjadi ke temanku...terjatuh dari motor sementara yang mboncengin teuteup melaju dan nggak nyadar kalo penumpangnya sudah turun :D
myhaura wrote on Apr 13, '07
wakakakak lucunya, jadi inget blognya Adhitya Mulya, persis kek gini :D
neraandianti wrote on Apr 13, '07
hihihihi....Mba Sya makin pinter nulis nih
utheyabdullah wrote on Apr 13, '07
aneh tapi nyata...
^_^
athimanis wrote on Apr 13, '07
wah harus hati2 nih klo boncengin Naufal...harus sering ditengok2 dibelakang :D
lucuuuuuu
wandaruni wrote on Apr 13, '07
kalo aku yang dibonceng, pasti langsung terasa deh kalo boncengannya hilang... hihihi..
istiaq wrote on Apr 13, '07
Lucu, kok bisa gak terasa ya ........?
imazahra wrote on Apr 13, '07
Huehehehehehe, bapak is hillarious, hihihihihihihihi :-D
*salam kenal buat bapak ibu ya Mba* :-D
dianadji wrote on Apr 14, '07
Lucu lah, Sya. Karena dulu pernah ngalamin kayak gini juga. Cuma yg bonceng guruku yg bawa aku utk ikutan lomba cerdas cermat.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help