Saat keresahan, kekecewaaan, kegalauan melanda hatiku. Tak sengaja pagi ini kutemukan sebuah puisi yang isinya cukup menyentilku dan kemudian menggerakkan hatiku untuk bangkit dari keterpurukan.
Puisi berjudul "Merusak" yang ditulis oleh Sheila Stephens dalam buku "Chocolate For Woman's Blessings" itu cuplikannya sebagai berikut :
Aku dilukai dan dikecewakan seorang kawan,
dan menemukan diriku marah berkepanjangan,
Aku merusak semangatku
karena orang lain.
Aku tidak mewujudkan mimpiku dengan seketika,
kemudian berhenti berusaha.
Aku merusak semangatku
karena Ketidaksabaran.
Aku merasakan turunnya hujan di pintu musim dinginku,
dan mengeluh semuanya itu tidak cukup.
Aku merusak semangatku
karena cuaca.
Aku memperhatikan hal-hal yang kumiliki
dan menyebut semuanya itu tidak cukup.
Aku merusak semangatku
karena Rasa Kekurangan.
Aku berlari tergesa-gesa
dan kehilangan rasa damaiku.
Aku merusak semangatku
karena Waktu dan Tindakan.
Aku melihat tantangan sebagai masalah,
dan takut terhadap hal buruk yang akan terjadi.
Aku merusak semangatku
karena Kecemasan.
....
Prasangka. Ya, Prasangka. Allah ada dalam setiap prasangka hambaNya. Maka berprasangkalah yang baik-baik agar hal baik pula yang akan terjadi pada kita.
Jika kita sedang dikecewakan oleh seorang teman, untuk apa kita marah berkepanjangan? Toh dengan marah berkepanjangan masalah tidak lantas terselesaikan, justru sebaliknya, diri kita sendiri yang akan dirugikan dengan hadirnya emosi negatif yang menggerogoti kesucian hati kita.
Ketika mimpi harus tertunda, untuk apa kita lantas berhenti berusaha? Mundurlah selangkah, tapi untuk mengambil "ancang-ancang" untuk lompatan yang lebih hebat.
Ketika tantangan ada di depan, untuk apa kita takut pada hal-hal terburuk yang akan terjadi? Jangan biarkan diri kita dikuasai oleh kecemasan yang tak pasti.
Masalah itu ada tergantung bagaimana hati kita memandangnya, sebagai prasangka baik atau sebagai prasangka buruk? Jika prasangka buruk yang kita hadirkan, maka masalah tak segan akan menghampiri.