Kalau kamu pernah membaca novel serial “Balada Si Roy” , kamu pasti tahu siapa pengarangnya. Sosok novelis yang satu ini sangat unik karena dia sangat lincah meski hanya memiliki satu tangan. Ya, dialah Gola Gong.
Menulis baginya adalah sebuah kegiatan sebagai pembuktian diri bahwa orang cacatpun mampu berprestasi seperti layaknya orang noncacat. Hal itu juga dimaksudkan sebagai pembuktian akan perlakuan-perlakuan diskriminatif yang pernah dia alami dikarenakan dia cacat. Menurutnya, jurang psikologis antara orang cacat dan noncacat itu bisa dicairkan. Membaca adalah sarana menuju ke sana. Dengan membaca, wawasan kita akan luas. Kita akan tahu bahwa betapa banyak orang cacat yang sukses di bumi ini. Dan betapa banyak orang noncacat yang bodoh.
Gola Gong menulis buku Menggengam Dunia: Bukuku Hatiku (Dar!Mizan, 2006) terutama ditujukan untuk para orangtua agar bisa mengambil pelajaran dari kisah hidupnya. Memiliki anak yang cacat bukanlah sebuah aib. Kepercayaan diri mereka bisa dibangun dengan menciptakan budaya baca. Lewat buku itu pula dia mendorong setiap orangtua untuk membuat perpustakaan rumah atau home library karena menurutnya mendidik anak dengan menyediakan buku bacaan atau home library akan menghasilkan generasi baru yang cerdas dan mandiri. Itu pulalah yang dilakukan di rumahnya, dia telah menciptkan reading habit di keluarganya sejak dini. Menurutnya reading habit itu musti dimulai dari lingkungan keluarga, sebelum memasuki wilayah di luar rumah.
Gola Gong adalah orang yang sangat peduli dengan budaya membaca di kalangan generasi muda. Terutama generasi muda banten (tempat tinggalnya). Dia ingin merubah image pemuda banten yang lebih dikenal karena jawara dan black magicnya menjadi pemuda-pemuda yang unggul dan berprestasi dengan gemar membaca. Dia ingin mengguncang banten dan menggerakkan banten membaca. Untuk itulah dia merintis berdirinya sebuah pustakaloka yang bernama Rumah Dunia.
Bersama dengan istrinya, Tyas Tatanka yang juga seorang novelis, lalu mereka merintisnya. Royalti dari beberapa novelnya dan zakat profesi per bulannya dia gunakan untuk membeli lahan seluas 1.000 meter persegi di belakang rumahnya. Disitulah Rumah Dunia didirikannya. Tepatnya di komplek Hegar Alam 40, Ciloang, Serang, Banten.
Mengapa dinamakan rumah dunia adalah karena Gola Gong ingin memindahkan dunia ke dalam rumah melalui buku. Di Rumah Dunia selain terdapat ribuan buku yang bisa dibaca secara cuma-cuma, di sana juga dijadikan sebagai pusat belajar jurnalistik, sastra, rupa dan lakon bagi anak-anak, pelajar, remaja dan mahasiswa.
Meski Gola Gong harus banyak berkorban mengeluarkan seluruh pendapatannya untuk membangun Rumah Dunia, namun dia tak pernah menyesal dan tak takut akan menjadi miskin. Dia sangat yakin bahwa dengan memikirkan orang lain lewat harta dan ilmunya, Insya allah urusannya akan dimudahkan oleh Allah. Dan itulah yang terjadi.
Sekarang Rumah Dunia telah berkembang pesat menjadi pusat pembelajaran bagi warga banten. Banyak novelis dan sastrawan terkenal yang turut andil, baik menjadi donatur maupun menjadi pengajar di kelas menulis atau jurnalistik di sana.
Saat ini Gola Gong sedang terbaring di sebuah rumah sakit di Purwakarta karena pengapuran di lehernya. Bagi yang ingin membantu meringankan bebannya silahkan kunjungi MP Mbak Kosi ini.
Teriring doa untuk Pak Gola Gong, semoga lekas sembuh dan produktif lagi nulis novelnya.