Blog EntryBelajar Dari Ayi RohamanMay 6, '08 10:11 PM
for everyone
         

Aku seringkali iri kalau melihat orang-orang seperti Ayi Rohaman ini. Mereka bukan berasal dari kalangan berada yang mampu bermewah-mewah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan bisa dibilang mereka adalah orang yang tak mampu. Serba kekurangan. Namun meski keadaannya seperti itu, mereka tetap memiliki semangat untuk berbagi kepada sesama.

Ayi rohaman bukan berasal dari keluarga kaya, bahkan sangat sederhana. Sejak masih remaja dia sudah terbiasa bekerja apa saja. Sewaktu dia masih sekolah, dia sering tidak bisa membeli buku karena tidak punya uang.

Meski dia sangat membutuhkan buku tersebut, dia tak pernah berani untuk memintanya kepada orangtuanya, karena dia tahu bahwa orangtuanya tidak memiliki uang.

Namun keterbatasannya itu tidak membuat dia lantas menyerah. Diapun berusaha mencari uang dengan melakukan berbagai pekerjaan. Pernah dia menjadi kenek angkot, pernah juga berkeliling dari kampung ke kampung untuk menawarkan piring dan sendok yang bisa digarvir sesuai pesanan. Sedangkan sekarang ini dia menjadi penjual gorden keliling.

Sejak dulu dia memang senang membaca terutama membaca buku yang berhubungan dengan lingkungan. “Setelah buku itu dibaca, selain ilmunya untuk diri sendiri, juga bisa diterapkan untuk orang lain. Misalnya buku tentang beternak ayam buras, setelah membacanya kita jadi terpikir untuk mengembangkannya di lingkungan sendiri ” katanya.

Karena kegemarannya membaca itu seringkali Ayi mendapat cemoohan dari tetangganya. Dia dianggap berlagak seperti orang kaya. Misalnya sewaktu pagi hari dia menyempatkan diri untuk membaca koran sebelum berangkat kerja, maka tetangganya akan mencemoohnya “Wah tukang gorden ini kayak orang kaya aja, pagi-pagi sudah baca Koran”. Tapi Ayi tak sakit hati dengan cemoohannya tersebut. Justru dia semakin bertekad untuk mengajarkan kepada masyarakat bahwa membaca itu penting bagi siapa saja bukan hanya bagi orang kaya.

Ketika sedang berkeliling berjualan gorden, Ayi makin terdorong untuk membuat taman bacaan. Ketika itu ia melihat seorang anak menangis merengek ke orangtuanya meminta buku. Namun orangtuanya tidak punya uang, jangankan untuk membeli buku, untuk makan hari itu saja mereka kesulitan. Melihat pemandangan itu, Ayi merasa iba dan kasihan. Sejak saat itu keinginannya untuk membuka taman bacaan menjadi makin kut.

Lalu Ayi mengumpulkan buku-buku yang dia punya. Awalnya hanya terkumpul kurang lebih 75 buku. Saat itu tanggal 20 April 2004 dia membuka taman bacaan di teras rumahnya.

Menjadikan lingkungan menjadi gemar membaca memant tak semudah yang dikira. Meski di teras rumahnya telah tersedia buku-buku yang bisa dibaca secara gratis, namun anak-anak tidak ada yang mau masuk. Akhirnya Ayi melakukan pendekatan personal kepada anak-anak yang ada di lingkungannya. Setiap kali ada anak lewat, dia akan menyapa dan menanyainya. Lalu, mulailah anak-anak diajak membaca ke taman bacaannya.

Selain itu, Ayi juga menyediakan makanan-makanan kecil untuk memancing agar anak-anak mau datang dan membaca.

Ayi juga selalu menganggarkan uang bulanannya untuk menambah koleksi buku di taman bacaannya. Awalnya ia merahasiakan apa yang dilakukannya itu dari istrinya. Karena ia khawatir istrinya akan marah. Untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah anak saja sulit kok malah mengurus orang lain.

Setelah buku yang terkumpul semakin banyak, Ayi kemudian meminjam kios kakaknya untuk tempat buku-buku itu. Awalnya ia menamakan kios buku itu dengan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Tapi kemudian ada orang yang datang menegur dan mengingatkan bahwa ia sudah mendirikan TBM dan melarang Ayi supaya Ayi jangan ikut-ikutan mendirikan TBM. Lalu ia mengganti nama taman bacaan itu menjadi perpustakaan Sariwangi.

Pada tahun 2005, perpustakaan Sariwangi dinobatkan sebagai pengelola perpustakaan terbaik se-Bandung. Saat itu Ayi mendapatkan hadiah dari bupati berupa buku-buku bekas untuk menambah koleksinya.

Di tahun itu pula, Ayi menghadapi masalah. Kios milik kakaknya yang tadinya dia gunakan untuk ruang perpustakaan diminta oleh kakaknya karena akan digunakan. Ayi sempat bingung dan sedih, tak tahu harus kemana memindahkan perpustakaan itu. Tapi kemudian datang orang dari sebuah yayasan yang memberikan dana untuk mendirikan perpustakaan yang layak. Akhirnya berdirilah gedung perpustakaan yang layak yang digunakannya sampai sekarang sebagai perpustakaan Sariwangi.

Sekarang ini pembaca yang datang ke perpustakaan Sariwangi tiap harinya mencapai 230 orang, paling sedikit 150 orang per hari. Pembacanyanya pun beragam mulai dari anak SD, SMP, SMA termasuk masyarakat biasa. Sedangkan anggota yang terdaftar di perpustakaan itu mencapai 850 orang.

Ayi bertekad untuk terus mengembangkan perpustakaannya itu. Dia berharap agar anak cucu dan warga mau tetap melanjutkan perjuangannya agar perpustakaan tetap berdiri.

Banyak hal yang telah didapatkan oleh Ayi. Namun semua itu tidak didapatkanya secara instant. Melalui perjuangan panjangnya mengalahkan segala keterbatasan yang dia miliki dan cemoohan orang-orang di sekitarnya, dia mampu memberikan sesuatu yang sangat berharga untuk orang lain.

Salah satu hal yang bisa kita ambil hikmahnya adalah ketika dia bersusah payah mendirikan perpustakaan untuk masyarakat, hidupnya malah jadi lebih mudah dan lebih berkah. Padahal tadinya sewaktu hanya memikirkan hidupnya sendiri, dia merasakan sangat pas-pasan, namun ketika dia juga memikirkan hidup orang lain kini perekonomiannya malah membaik. Itulah salah satu berkah berbagi.

Nah, kalau Kang Ayi saja mampu berbagi dalam keterbatasan yang dia miliki, lalu bagaimana dengan kita?


Kisah Ayi disadur dari :

Tarbawi edisi 177 th 9/Rabiuts tsani 1429H/9 april 2008 M



13 CommentsChronological   Reverse   Threaded
tianarief wrote on May 6
sya2 said
Padahal tadinya sewaktu hanya memikirkan hidupnya sendiri, dia merasakan sangat pas-pasan, namun ketika dia juga memikirkan hidup orang lain kini perekonomiannya malah membaik. Itulah salah satu berkah berbagi.
sangat inspiratif. :)
bundaulum wrote on May 6
Hebat ya semangatnya.....
lemburnyiciwit wrote on May 6
terima kasih tulisannya Sari ... betul kata kang Tian, sangat inspiratif..
nandae wrote on May 6
sya2 said
Pernah dia menjadi kenek angkot
ojobku *pinjam bahasanya mba QQ* dulu jg lakukan ini lho.....:D
evanda2 wrote on May 6
Hebat ....
faridrifai wrote on May 6
jadi malu sama diri sendiri..hiks hiks...
ftz12 wrote on May 6
iya sangat mengispirasi. pas baca di tarbawi jadi semangat pingin bikin taman bacaan.
ibufarhansarah wrote on May 6
Kayaknya pernah masuk di Kick Andi deh...
indahjuli wrote on May 7
Benar-benar menginspirasi.
Satu dari sedikit orang yang mau berbagi :)
ti2n wrote on May 7
inspiring banget...!
duh, jadi malu ya...
dinoflove wrote on May 7
Subhanallah...hebat ya ...
greenstory wrote on May 7
Subhanallah bgt
ingin bercita2 seperti Ayi mba :)
wib711 wrote on May 7
pantang menyerah.... tetep terus usaha...... salut
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help