Setiap orangtua yang punya anak yang masih BALITA (dalam usia golden Age) pasti pernah merasakan kekaguman terhadap perkembangan otak anaknya. Barangkali kalimat "kok bisa ya?" seringkali keluar menyusul beberapa keajaiban yan terjadi pada tumbuh kembang anak kita. Betul nggak? Nggak heran, karena menurut Glenn Doman , bayi yang baru lahir itu telah memiliki 100 trilyun sel otak. Dan masa-masa golden age inilah masa dimana otak anak berkembang secara pesat. Tak heran kalau kadangkala kita dibuat terkagum-kagum oleh kemampuan mereka dalam menyerap sesuatu lebih baik dibandingkan kita yang telah dewasa.
Aku sendiri pernah mengalami keheranan semacam ini. Ketika kutahu bahwa anakku ternyata mampu menghafal semua dialog dan narasi dari beberapa buku cerita yang sering kubacakan untuknya secara tepat. Bahkan aku sendiri yang membacakannya tak hafal persis bagaimana kalimatnya, tapi dia yang kala itu baru berusia 3 tahun, mampu menghafalnya secara cepat dan tepat. Jika ada satu kata yang sengaja kusalahkan untuk mengujinya, dia pasti akan protes dan mengoreksinya.
Kejaiban-kejaiban seperti ini pasti banyak dirasakan oleh para orangtua yang lain. Lihatlah, betapa cepat anak kita menghafal lagu-lagu (bahkan lagu-lagu dewasa sekalipun), ya nggak? hayoo jujur aja deh.. hehehe. Semua ini tak lain karena memang usia BALITA ini adalah masa-masa golden age seperti yang dikatakan oleh Glen Doman seorang pakar pengembangan potensi manusia dari Philadelphia USA.
Berawal dari kesadaran akan hal ini, akupun berpikiran "Alangkah sayangnya jika aku melewatkan masa-masa ini tanpa memberikan stimulus kepada anakku untuk mengembangkan kemampuan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat " kataku dalam hati.
"Daripada nyanyi-nyanyi, mbok mending diajari ngaji" begitu kata ibuku yang sempat terlontar mengomentari keponakanku yang banyak sekali hafal lagu-lagu dewasa. Kalimat itu memotivasiku untuk bertekad mengajari anakku menghafal surat-surat Al-Quran.
Awalnya aku belum tahu metode menghafal surat-surat Al-quran yang efektif untuk anak. Maka aku hanya memakai cara konvensional, seperti yang diajarkan guru ngaji TPA anakku. Yaitu dengan menghafalkan seperti biasa dimulai dari surat-surat pendek juz 30. Oh ya tentang guru ngaji di TPA, ada kekecewan yang terus terang kurasakan karena mereka tidak mengajari bacaan secara benar (asal baca dan hafal aja), misalnya mereka nggak mengajarkan cara pengucapan yg benar , qolqolah pada surat al-ihklas. Walhasil anak-anak ajarnya memang hafal surat al-ikhlas tapi bacaannya tak menggunakan qolqolah (nyekluk ..gitu jawanya ) . Menurutku, cara seperti ini salah. Dan kesalahan yang dianggap wajar oleh guru ngaji ini bisa berakibat fatal karena jika hal ini sudah menjadi kebiasaan, di kemudian hari bacaan anak akan susah dibenarkan. Oleh karena itu aku bertekad untuk mengajari anakku dengan caraku sendiri (meski dia juga tetap ngaji di TPA). (Waktu cuti hamil kmren aku menunggui anakku yang sedang ngaji di TPA dan kuperhatikan hanya Mirza satu-satunya anak yang membaca Al-ikhlas dengan qolqolah).
Aku sangat bersyukur aku telah membaca buku "Doktor Cilik Hafal quran" nya Mba Dina Sulaiman. Dari sanalah aku tahu ada metode bagus untuk mengajarkan anak menghafal Quran seperti yang dilakukan ayah sang doktor Sayyid Husein asal Iran. Husein adalah anak ajaib yang mampu menghafal quran dalam usianya yang baru 5 tahun. Metode jamiatul quran sekarang telah berkembang pesat di Iran dan di Indonesia juga sudah ada dengan nama "rumah qurani" , cmiiw. Dengan metode ini anak dengan fun akan mampu menyerap hafalan sekaligus maknanya.
Sedikit demi sedikit aku hendak mencoba menerapkannya untuk Mirza. Cara yang kugunakan sebaik mungkin membuat anak tidak sadar bahwa ternyata dia sedang "diajari". Misalnya sambil menggunakan boneka aku mendongeng, si boneka (misalnya aja namanya berry beruang) . Dalam dongeng kuceritakan Berry badannya menjadi lemas karena terlalu banyak makan. Makanan banyak yang tersisa dan dibuang-buang. Nah dari situ aku menerapkan metode rumah qurani untuk menghafalkan surat Al-araf 31 "Kuluu wasrabu wa la tusrifu " artinya "makan dan minumlah tapi jangan berlebihan".
Cara mengafalnya aku meniru dari buku "Doktor cilik hafal quran " halaman 153.
1. Mirza aku suruh berdiri sambil membaca "Kulu... " sambil menggerakkan tangannya kemulut seolah-olah hendak makan.
2. Lalu membaca "Wasrabu" , sambil menggerakan tangannya seperti meminum dari gelas.
3." Wala" menggerakan telunjuk ke kiri dan ke kanan (seperti tanda utk melarang sesuatu)
4. "Tusrifu " menggerakan kedua tangan membentuk bulatan besar (tanda kebanyakan)
Lakukan langkah itu dan diganti kata-katanya dengan arti kata bahasa indonesianya. Misalnya Kata kulu diganti dengan (makan), wasrabu (minum), wala (tapi jangan ), tusrifu (berlebihan).
Mungkin banyak cara yang bisa kita gunakan untuk mengajar anak menghafal quran , tapi aku sendiri belum tahu banyak (baru tahu dari bukunya mbak Dina itu). Dan baru sadar juga ternyata orangtua itu harus kreatif dalam mengajar anak. Karena kita tak bisa hanya mengandalkan pengajaran dari guru. Dan bukankah tugas mendidik anak itu adalah tugas orangtua bukan melulu tugas guru?