Blog EntryMengajar Anak Menghafal Al-Qur'anMay 18, '08 8:56 PM
for everyone
    Setiap orangtua yang punya anak yang masih BALITA (dalam usia golden Age) pasti pernah merasakan kekaguman terhadap perkembangan otak anaknya. Barangkali kalimat "kok bisa ya?" seringkali keluar menyusul beberapa keajaiban yan terjadi pada tumbuh kembang anak kita. Betul nggak? Nggak heran, karena menurut Glenn Doman , bayi yang baru lahir itu telah memiliki 100 trilyun sel otak. Dan masa-masa golden age inilah masa dimana otak anak berkembang secara pesat. Tak heran kalau kadangkala kita dibuat terkagum-kagum oleh kemampuan mereka dalam menyerap sesuatu lebih baik dibandingkan kita yang telah dewasa.

   Aku sendiri pernah mengalami keheranan semacam ini. Ketika kutahu bahwa anakku ternyata mampu menghafal semua dialog dan narasi dari beberapa buku cerita  yang sering kubacakan untuknya secara tepat. Bahkan aku sendiri yang membacakannya tak hafal persis bagaimana kalimatnya, tapi dia yang kala itu baru berusia 3 tahun, mampu menghafalnya secara cepat dan tepat.  Jika ada satu kata yang sengaja kusalahkan untuk mengujinya, dia pasti akan protes dan mengoreksinya.

    Kejaiban-kejaiban seperti ini pasti banyak dirasakan oleh para orangtua yang lain. Lihatlah, betapa cepat anak kita menghafal lagu-lagu (bahkan lagu-lagu dewasa sekalipun), ya nggak? hayoo jujur aja deh.. hehehe. Semua ini tak lain karena memang usia BALITA ini adalah masa-masa golden age seperti yang dikatakan oleh Glen Doman seorang pakar pengembangan potensi manusia dari Philadelphia USA.

   Berawal dari kesadaran akan hal ini, akupun berpikiran  "Alangkah sayangnya jika aku melewatkan masa-masa ini tanpa memberikan stimulus kepada anakku untuk mengembangkan kemampuan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat " kataku dalam hati.
"Daripada nyanyi-nyanyi, mbok mending diajari ngaji" begitu kata ibuku yang sempat terlontar mengomentari keponakanku yang banyak sekali hafal lagu-lagu dewasa. Kalimat itu memotivasiku untuk bertekad mengajari anakku menghafal surat-surat  Al-Quran.

    Awalnya aku belum tahu metode menghafal surat-surat Al-quran yang efektif untuk anak. Maka aku hanya memakai cara konvensional, seperti yang diajarkan guru ngaji TPA anakku. Yaitu dengan menghafalkan seperti biasa dimulai dari surat-surat pendek juz 30. Oh ya tentang guru ngaji di TPA, ada kekecewan yang terus terang kurasakan karena mereka tidak mengajari bacaan secara benar (asal baca dan hafal aja), misalnya mereka nggak mengajarkan cara pengucapan yg benar , qolqolah pada surat al-ihklas. Walhasil anak-anak ajarnya memang hafal surat al-ikhlas tapi bacaannya tak menggunakan qolqolah (nyekluk ..gitu jawanya ) . Menurutku, cara seperti ini salah. Dan kesalahan yang dianggap wajar oleh guru ngaji ini bisa berakibat fatal karena jika hal ini sudah menjadi kebiasaan, di kemudian hari bacaan anak akan susah dibenarkan. Oleh karena itu aku bertekad untuk mengajari anakku dengan caraku sendiri (meski dia juga tetap ngaji di TPA). (Waktu cuti hamil kmren aku menunggui anakku yang sedang ngaji di TPA dan kuperhatikan hanya Mirza satu-satunya anak yang membaca Al-ikhlas dengan qolqolah).

   Aku sangat bersyukur  aku telah membaca buku "Doktor Cilik Hafal quran" nya Mba Dina Sulaiman. Dari sanalah aku tahu ada metode bagus untuk mengajarkan anak menghafal Quran seperti yang dilakukan ayah sang doktor Sayyid Husein asal Iran. Husein adalah anak ajaib yang mampu menghafal quran dalam usianya yang baru 5 tahun. Metode jamiatul quran sekarang telah berkembang pesat di Iran dan di Indonesia juga sudah ada dengan nama "rumah qurani" , cmiiw. Dengan metode ini anak dengan fun akan mampu menyerap hafalan sekaligus maknanya.

  Sedikit demi sedikit aku hendak mencoba menerapkannya untuk Mirza. Cara yang kugunakan sebaik mungkin membuat anak tidak sadar bahwa ternyata dia sedang "diajari". Misalnya  sambil menggunakan boneka aku mendongeng, si boneka (misalnya aja namanya berry beruang) . Dalam dongeng kuceritakan Berry badannya menjadi lemas karena terlalu banyak makan. Makanan banyak yang tersisa dan dibuang-buang. Nah dari situ aku menerapkan metode rumah qurani untuk menghafalkan surat Al-araf 31 "Kuluu wasrabu wa la tusrifu "  artinya "makan dan minumlah tapi jangan berlebihan".

    Cara mengafalnya aku meniru dari buku "Doktor cilik hafal quran " halaman 153.

1. Mirza aku suruh berdiri sambil membaca "Kulu... " sambil menggerakkan tangannya kemulut seolah-olah hendak makan.
2. Lalu membaca "Wasrabu" , sambil menggerakan tangannya seperti meminum dari gelas.
3." Wala"  menggerakan telunjuk ke kiri dan ke kanan  (seperti tanda utk melarang sesuatu)
4. "Tusrifu " menggerakan kedua tangan  membentuk  bulatan besar (tanda kebanyakan)

Lakukan langkah itu dan diganti kata-katanya dengan arti kata bahasa indonesianya. Misalnya Kata kulu diganti dengan (makan), wasrabu (minum), wala (tapi jangan ), tusrifu (berlebihan).
 
Mungkin banyak cara yang bisa kita gunakan untuk mengajar anak menghafal quran , tapi aku sendiri belum tahu banyak (baru tahu dari bukunya mbak Dina itu). Dan baru sadar juga ternyata orangtua itu harus kreatif dalam mengajar anak. Karena kita tak bisa hanya mengandalkan pengajaran dari guru. Dan bukankah tugas mendidik anak itu adalah tugas orangtua bukan melulu tugas guru?


17 CommentsChronological   Reverse   Threaded
nandae wrote on May 18
wa..., dapet ilmu baru ni
thanks ya mba...
catatankecil wrote on May 18
Huaaa
BERTEKAD KUAT, Nibras kudu diajarin nih, Mbak
Thx yaaah ^_^
evanda2 wrote on May 18
setuju.... pe er ku jg banyak banget nih buat ngajarin anak2ku ngafal alqur;an, krn aku sendiri jg belum bisa.. masih mencari metoda termudah bagi mereka....
TFS ya...
chietut wrote on May 18
weh,mba sya emang te o pe deh...
ntar tak tanya-tanya soal anak ya mbak...:-D
ibufarhansarah wrote on May 18
TFS ya...
saloute wrote on May 18
Wah bagus nih ilmu barunya, saya adopsi ah...
Mengenai perkembangan otak (golden Age) pada bayi saya juga ngerasain koq. Anak saya yang berumur 3 bulan sudah bisa memegang botol susunya sendiri dan sudah bisa mengatakan 3 kata : Ayah, mbu (Ibu), Mbah.
Percaya ndak Percaya tapi nyata...
myhaura wrote on May 18
aku juga akhir2 ini berpikir mo ngedatengin guru ngaji buat Haura di rumah, mamanya bisa sih ngajarin, tapi takut metodenya gak tepat...TFS ya mbak.
nikhsan wrote on May 19
sya2 said
surat Al-araf 21 "Kuluu wasrabu wa la tusrifu "
koreksi dikit, spertinya ada salah ketik, mksdnya Al-A'raf 31 kan ya?

eniwei, tips yg menarik tuh mbak...
sya2 wrote on May 19
oh iya bener..tks koreksinya.
bundaicha wrote on May 19
makasih sharenya...
albirru wrote on May 19
butuh waktu yg luang utk ngajarin yaa *huhuhuhu nggak punya banyak waktu ma anak*
rulsyahwife wrote on May 19
iya betul mba...anakku sekarang hafal quran dan haditsnya jauh lebih banyak dari pada aku.....ada metode baru ya...nanti aku coba deh mba..makasih infonya
bundakirana wrote on May 19
salut buat mba Sya... :)
bangdha wrote on May 19
di mesir, ibu ibu yg telah menitipkan anak anaknya dipendidikan alqur'an, pulang dan pergi selalu mengulang kembali hafalan hafalan mereka. sambil menikmati perjalanan.
mrsnale wrote on May 19
thanks.. jadi tambahan ilmu nih
noenk78 wrote on May 19
WAh salut .Atus ini emang working mom yang bisa kayak ibu rumah tangga.Salut bener....Andai FAris nggak telat mungkin udah tak ajarin macam2 ya
rumahapiq wrote on May 20
Bu, menurutku lebih baik kalau kita belajar langsung ke rumah qur'ani tentang metode ini karena agak gak pas kalau pake penafsiran sendiri (ada beberapa gerakan yang banyak dipakai, kayak kata'wa' yang berarti 'dan' dibuat dengan memutar tangan di udara membentuk huruf wau)meskipun beberapa memang bisa kita lakukan dengan melihat gambar yang ada di bukunya Mbak Dina. Aku sebenernya pengen banget bisa bikin pelatihan rumah qur'ani di jakarta, ada yang bisa bantu gak ya?
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help