“Kok suwe ora tau mecel to mbak e ? “ Tanya bu’e padaku siang itu. Ibu setengah baya itu bertanya padaku kenapa aku sudah lama tidak membeli pecel darinya untuk makan siang di kantor. “Nggih, bu’e, sakniki kulo mbeto sangu maem piyambak “ jawabku memberikan alasan.
Dua tahun yang lalu, ketika masa-masa aku hamil dan menyusui anakku, setiap hari tak pernah terlewatkan, aku selalu membeli pecel sayur itu untuk menu makan siangku. Selain harganya murah, juga kebutuhan akan vitamin dan gizi banyak aku peroleh dari sayur-sayuran seperti bayam, kacang panjang, kangkung, taoge dan sayur-sayuran lain yang dicampur oleh bumbu pecel si bu’e. Tahu dan tempe bacem yang juga dijual oleh bu’e juga enak.
Namun semenjak aku punya asisten yang tinggal dirumahku, aku selalu dibuatkan bekal untuk makan siang di kantor. Dengan membawa bekal makanan sendiri selain bisa lebih irit, masakan dari rumah juga lebih terjamin kebersihan dan kehalalannya. Tetapi kekurangannya, aku menjadi kurang gaul dengan para pedagang makanan yang ada di sekitar kantorku, salah satunya, ya penjual pecel sayur itu. “Karo peyek kacang opo ora mbak ‘e? “ Sahut pak’e, suami si bu’e, menanyakan padaku apa aku mau membeli rempeyek kacang buatan mereka yang lezat gurih itu. “Nggih pak’e , setunggal bungkus kemawon..“ Pak’e memasukkan sekantong rempeyek kedalam tas plastik hitam, satu bungkus rempeyek seharga tiga ribu rupiah itu lezat dan gurih rasanya, membuatku selalu tidak melewatkan kesempatan untuk membelinya.
Seperti hari-hari biasanya, pecel yang dijual oleh sepasang suami-istri setengah baya itu selalu rame dikunjungi para pekerja kantoran yang berkantor di sekitar gedung JDC, Wisma Indra Mas atau Gedung dana pensiun telkom Slipi tempat kantorku berada. Lokasi penjual pecel itu tepat berada di pinggir jalan, di depan gedung Wisma Indra Mas, Jl KS Tubun perempatan Slipi-Palmerah.
Saat jam 12 tepat waktu istirahat para pekerja kantoran, saat itu pula pecel langsung diserbu, biasanya untuk mendapatkan sebungkus pecel yang kita inginkan, kita bisa membutuhkan waktu sekitar sepuluh sampai dengan dua puluh menit untuk mengantri.
Agar tidak terlalu lama mengantri biasanya aku akan curi start waktu istirahat yang artinya aku akan keluar dari kantor untuk mencari makan siang setengah jam sebelum waktu istirahat, yang berarti jam setengah dua belas siang. Dengan demikian, aku bisa terbebas dari desak-desakan dengan pekerja lain, selain itu aku akan mendapat kesempatan untuk sedikit mengobrol dengan sepasang suami-istri penjual pecel sayur tersebut.
Aku tidak tahu siapa nama mereka sebenarnya, selama ini aku hanya memanggil mereka dengan panggilan bu’e untuk sang istri dan pak’e untuk memanggil sang bapak. Aku memanggil begitu karena mereka selalu memanggilku dengan panggilan mbak’e . Mereka berasal dari daerah Gunung kidul, Yogyakarta.
Mereka berjualan pecel sayur di Jakarta ini sejak dari tahun 1985. Awalnya mereka berjualan secara berkeliling dari rumah ke rumah di daerah kemanggisan dan sekitarnya. Namun beberapa tahun belakangan ini mereka sudah tidak berjualan keliling lagi. Mereka sudah memiliki tempat berjualan yang letaknya strategis, di pinggir jalan, depan gedung Wisma Indra Mas, Jalan KS Tubun Jakarta. Tempat mereka berjualan bukanlah warung, tapi bisa dikatakan sebagai pedagang kaki lima, hanya dengan meja kecil mereka meletakkan sayur-sayur, lontong, tahu dan tempe bacem, serta rempeyek dagangan mereka. Sebenarnya di daerah itu dilarang ada penjual kaki lima, seringkali bu’e dan pak’e harus kucing-kucingan dengan petugas satpol PP yang beroperasi menertibkan para pedagang kaki lima di daearah situ.
Tugas sepasang suami-istri dalam berjualan pecel itu dibagi berdua, bu’e yang akan melayani, meracik berbagai macam sayuran kemudian dicampur dengan bumbu pecel dan dibungkus kertas. Sementara pak’e , beliau akan memasukkan bungkusan rempeyek ke dalam plastik kresek hitam sekaligus bertugas sebagai kasir yang menerima pembayaran dan pengembalian uang sisa pembelian dari pembeli. Mereka terlihat harmonis dan selalu tampil ceria melayani para pembeli.
Keceriaan mereka itu seolah menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang optimis dalam berikhtiar mencari rejeki. Seporsi pecel yang ditambah dengan satu buah lontong dihargai sebesar tiga ribu rupiah. Sedangkan tempe dan tahu bacem masing-masing seharga lima ratus rupiah. Rempeyek kacang harganya tiga ribu rupiah sedangkan rempeyek tempe harganya lima ribu rupiah per bungkus. Semua makanan tersebut dibuat sendiri oleh bu’e kecuali lontong. Untuk lontong dia membeli dari orang lain kemudian mengambil untung sebesar dua ratus rupiah per buahnya.
Dari hasil menjual tempe dan lauk-pauk itu ternyata mereka memperoleh keuntungan yang lumayan. Mereka berhasil membiayai kedua orang anaknya di Yogyakarta kuliah sampai tingkat sarjana. Anak pertama mereka , seorang perempuan, berhasil lulus dari sebuah perguruan tinggi di yogyakarta dan sekarang ini bekerja sebagai seorang guru SLTA di salah satu SLTA di yogyakarta. Sedangkan anak keduanya, laki-laki, saat ini sedang menempuh pendidikan di UGM jurusan kedokteran, semester akhir. “Sedelo meneh anakku dadi dokter lho mbak’e..” ucap bu’e dengan wajah gembira. “Alhamdulilah nggih bu..” jawabku. Kemudian Pak’e menceritakan suka-duka mereka mencari nafkah di Jakarta ini. Ternyata tidak semulus yang dikira, pengalaman mereka dikejar-kejar operasi satpol pamong praja sampai dengan pengalaman mereka dipalaki preman PKL mewarnai perjuangan mereka sehari-hari dalam mencari nafkah. Namun berkat ketekunan dan rasa optimis yang tinggi mereka mampu mewujudkan mimpi mereka yaitu memiliki anak-anak yang berpendidikan tinggi dan kemudian menjadi orang sukses.
Sebagai orangtua, kadangkala aku sendiri sering merasa pesimis dengan nasib pendidikan anakku nanti. Sekarang ini saja biaya pendidikan sudah selangit, bagaimana dengan lima belas tahun nanti ketika saat itu anakku harus memasuki jenjang perguruan tinggi? ah, aku tak berani membayangkannya. Tapi, dengan mengingat kisah hidup bu’e pak’e ini, semangatku bisa tumbuh kembali. Mereka yang hanya berjualan pecel saja mampu menyekolahkan anakknya di kedokteran, kenapa aku tidak? Selama kita bisa optimis dan tetap tekun berusaha, pasti akan ada jalan menuju tercapainya impian yang kita inginkan. Bu’e dan pak’e telah membuktikannya bahwa ketekunan dan optimisme ternyata bisa merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi sesuatu yang mungkin terwujud. Jadi, haruskah kita Optimis? Pasti.