Blog EntryDari Pecel Jadi DokterJan 16, '07 1:33 AM
for everyone

 

         Kok suwe ora tau mecel to mbak e ? “ Tanya bu’e padaku siang itu. Ibu setengah baya itu bertanya padaku kenapa aku sudah lama tidak membeli pecel darinya untuk makan siang di kantor. “Nggih, bu’e, sakniki kulo mbeto sangu maem piyambak “ jawabku memberikan alasan.

Dua tahun yang lalu, ketika masa-masa aku hamil dan menyusui anakku, setiap hari tak pernah terlewatkan, aku selalu membeli pecel sayur itu untuk menu makan siangku. Selain harganya murah, juga kebutuhan akan vitamin dan gizi banyak aku peroleh dari sayur-sayuran seperti bayam, kacang panjang, kangkung, taoge dan sayur-sayuran lain yang dicampur oleh bumbu pecel si bu’e.  Tahu dan tempe bacem yang juga dijual oleh bu’e  juga enak.

Namun semenjak aku punya asisten yang tinggal dirumahku, aku selalu dibuatkan bekal untuk makan siang di kantor. Dengan membawa bekal makanan sendiri selain bisa lebih irit, masakan dari rumah juga lebih terjamin kebersihan dan kehalalannya. Tetapi kekurangannya, aku menjadi kurang gaul dengan para pedagang makanan yang ada di sekitar kantorku, salah satunya, ya penjual pecel  sayur itu. “Karo peyek kacang opo ora mbak ‘e? “ Sahut pak’e, suami si bu’e, menanyakan padaku apa aku mau membeli rempeyek kacang buatan mereka yang lezat gurih itu. “Nggih  pak’e , setunggal bungkus kemawon.. Pak’e  memasukkan sekantong rempeyek kedalam tas plastik hitam, satu bungkus rempeyek seharga tiga ribu rupiah itu lezat dan gurih rasanya, membuatku selalu tidak melewatkan kesempatan untuk membelinya.

Seperti hari-hari biasanya, pecel yang dijual oleh sepasang suami-istri setengah baya itu selalu rame dikunjungi para pekerja kantoran yang berkantor di sekitar gedung JDC, Wisma Indra Mas atau Gedung dana pensiun telkom Slipi tempat kantorku berada.  Lokasi penjual pecel itu tepat berada di pinggir jalan, di depan gedung Wisma Indra Mas, Jl KS Tubun perempatan Slipi-Palmerah.

Saat jam 12 tepat waktu istirahat para pekerja kantoran, saat itu pula pecel langsung diserbu, biasanya untuk mendapatkan sebungkus pecel yang kita inginkan, kita bisa membutuhkan waktu sekitar sepuluh sampai dengan dua puluh menit untuk mengantri.

Agar tidak terlalu lama mengantri biasanya aku akan curi start waktu istirahat yang artinya aku akan keluar dari kantor untuk mencari makan siang setengah jam sebelum waktu istirahat, yang berarti jam setengah dua belas siang. Dengan demikian, aku bisa terbebas dari desak-desakan dengan pekerja lain, selain itu aku akan mendapat kesempatan untuk sedikit mengobrol dengan sepasang suami-istri penjual pecel sayur tersebut.

Aku tidak tahu siapa nama mereka sebenarnya, selama ini aku hanya memanggil mereka dengan panggilan bu’e untuk sang istri dan pak’e untuk memanggil sang bapak. Aku memanggil begitu karena mereka selalu memanggilku dengan panggilan mbak’e . Mereka berasal dari daerah Gunung kidul, Yogyakarta.

Mereka berjualan pecel sayur di Jakarta ini sejak dari tahun 1985. Awalnya mereka berjualan secara berkeliling dari rumah ke rumah di daerah kemanggisan dan sekitarnya. Namun beberapa tahun belakangan ini mereka sudah tidak berjualan keliling lagi. Mereka sudah memiliki tempat berjualan yang letaknya strategis, di pinggir jalan, depan gedung Wisma Indra Mas, Jalan KS Tubun Jakarta. Tempat mereka berjualan bukanlah warung, tapi  bisa dikatakan sebagai pedagang kaki lima, hanya dengan meja kecil mereka meletakkan sayur-sayur, lontong, tahu dan tempe bacem, serta rempeyek dagangan mereka. Sebenarnya di daerah itu dilarang ada penjual kaki lima, seringkali bu’e  dan pak’e  harus kucing-kucingan  dengan petugas satpol PP yang beroperasi menertibkan para pedagang kaki lima di daearah situ.

Tugas sepasang suami-istri dalam  berjualan pecel itu dibagi  berdua, bu’e  yang akan melayani, meracik berbagai macam sayuran kemudian dicampur dengan bumbu pecel dan dibungkus kertas. Sementara pak’e , beliau akan memasukkan bungkusan rempeyek ke dalam plastik kresek hitam sekaligus bertugas sebagai kasir yang menerima pembayaran dan pengembalian uang sisa pembelian dari pembeli. Mereka terlihat harmonis dan selalu tampil ceria melayani para pembeli.

Keceriaan mereka itu seolah menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang optimis dalam berikhtiar mencari rejeki. Seporsi pecel  yang ditambah dengan satu buah lontong dihargai sebesar tiga ribu rupiah. Sedangkan tempe dan tahu bacem masing-masing seharga lima ratus rupiah. Rempeyek kacang harganya tiga ribu rupiah sedangkan rempeyek tempe harganya lima ribu rupiah per bungkus. Semua makanan tersebut dibuat sendiri oleh bu’e kecuali lontong. Untuk lontong dia membeli dari orang lain kemudian mengambil untung sebesar dua ratus rupiah per buahnya.

Dari hasil menjual tempe dan lauk-pauk itu ternyata mereka memperoleh keuntungan yang lumayan. Mereka berhasil membiayai kedua orang anaknya di Yogyakarta kuliah sampai tingkat sarjana. Anak pertama mereka , seorang perempuan, berhasil lulus dari sebuah perguruan tinggi di yogyakarta dan sekarang ini bekerja sebagai seorang guru SLTA di salah satu SLTA di yogyakarta. Sedangkan anak keduanya, laki-laki, saat ini sedang menempuh pendidikan di UGM jurusan kedokteran, semester akhir. “Sedelo meneh anakku dadi dokter lho mbak’e..” ucap bu’e  dengan wajah gembira. “Alhamdulilah nggih bu..”  jawabku. Kemudian Pak’e  menceritakan suka-duka mereka mencari nafkah di Jakarta ini. Ternyata tidak semulus yang dikira, pengalaman mereka dikejar-kejar operasi satpol pamong praja  sampai dengan pengalaman mereka dipalaki preman PKL mewarnai perjuangan mereka sehari-hari dalam mencari nafkah. Namun berkat ketekunan dan rasa optimis yang tinggi mereka mampu mewujudkan mimpi mereka yaitu memiliki anak-anak yang berpendidikan tinggi dan kemudian menjadi orang sukses.

Sebagai orangtua, kadangkala aku sendiri sering merasa pesimis dengan nasib pendidikan anakku nanti. Sekarang ini saja biaya pendidikan sudah selangit, bagaimana dengan lima belas tahun nanti ketika saat itu anakku harus memasuki jenjang perguruan tinggi? ah, aku tak berani membayangkannya. Tapi, dengan mengingat kisah hidup bu’e pak’e  ini, semangatku bisa tumbuh kembali. Mereka yang hanya berjualan pecel saja mampu menyekolahkan anakknya di kedokteran, kenapa aku tidak? Selama kita bisa optimis dan tetap tekun berusaha, pasti akan ada jalan menuju tercapainya impian yang kita inginkan. Bu’e dan pak’e telah membuktikannya bahwa ketekunan dan optimisme ternyata bisa merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi sesuatu yang mungkin terwujud. Jadi, haruskah kita Optimis? Pasti.


19 CommentsChronological   Reverse   Threaded
dianadji wrote on Jan 16, '07
Aku optimis bisa makan pecelnya Bu'e dan peyeknya Pak'e kalau insya allah ke jakarta, heheheh. Iya nih, San, lagi suntuk mikirin apa bisa punya peningkatan hidup di negeri org. Kebutuhan tambah mahal dan uang masih pas2an. Berjuang terus ah, mumpung masih dikasih nafas!
ardhanamesvari wrote on Jan 16, '07
Jadi, haruskah kita Optimis? Pasti.
===================
SEMANGAT!!!
SEMANGAT!!!
SEMANGAT!!!
:D
d0d0lgarut wrote on Jan 16, '07
sya2 said
Sebagai orangtua, kadangkala aku sendiri sering merasa pesimis dengan nasib pendidikan anakku nanti. Sekarang ini saja biaya pendidikan sudah selangit, bagaimana dengan lima belas tahun nanti ketika saat itu anakku harus memasuki jenjang perguruan tinggi? ah, aku tak berani membayangkannya
Jangan pesimis Syar ...
Semangat, semangat !!!
Rezeki sudah diatur ama Allah, tinggal cara kita yang berikhtiar dan bertawakal ...

Ibrahim:034 وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni`mat Allah).
rinrinjamrianti wrote on Jan 16, '07
Harus uptimis, insya Alloh ada jalannya, berusaha dan berdoa!!!!
makasih ceritanya..... :)
sya2 wrote on Jan 16, '07
SEMANGAT!!!
Yuukkkk
sya2 wrote on Jan 16, '07
Aku optimis bisa makan pecelnya Bu'e dan peyeknya Pak'e kalau insya allah ke jakarta,
Mampir kantorku ya mbak :d
sya2 wrote on Jan 16, '07
Jangan pesimis Syar ...
Semangat, semangat !!!
Rezeki sudah diatur ama Allah, tinggal cara kita yang berikhtiar dan bertawakal ...

Ibrahim:034 وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni`mat Allah).
Betul yan, makasih tambahan infonya
sya2 wrote on Jan 16, '07
Harus uptimis, insya Alloh ada jalannya, berusaha dan berdoa!!!
Amiin :)
Iya optimis kok sekarang mbak:)
myhaura wrote on Jan 16, '07
Dimana ada kemauan, disitu ada jalan...:)
thetrueideas wrote on Jan 16, '07
teamwork yang bagus...
sya2 wrote on Jan 16, '07
myhaura said
Dimana ada kemauan, disitu ada jalan...:)
Yoi Mbak :)
sya2 wrote on Jan 16, '07
teamwork yang bagus...
Memang, kliatannya mereka akur terus, orgnya sama2 ramah dan selalu ceria :)
deeyand wrote on Jan 16, '07
sya2 said
kadangkala aku sendiri sering merasa pesimis dengan nasib pendidikan anakku nanti. Sekarang ini saja biaya pendidikan sudah selangit, bagaimana dengan lima belas tahun nanti ketika saat itu anakku harus memasuki jenjang perguruan tinggi? ah, aku tak berani membayangkannya. Tapi, dengan mengingat kisah hidup bu’e pak’e ini, semangatku bisa tumbuh kembali.
Betul Bunda, makasih ya jurnalnya :)
sya2 wrote on Jan 16, '07
deeyand said
Betul Bunda, makasih ya jurnalnya :)
sama2 , makasih sudah mampir mbak Dee
tianarief wrote on Jan 16, '07
pelajaran yang berharga dari suami-istri penjual pecel. makasih ceritanya, mbak. :)
sya2 wrote on Jan 16, '07
pelajaran yang berharga dari suami-istri penjual pecel. makasih ceritanya, mbak. :)
yup, sama2 pak
nandae wrote on Jan 16, '07
Memang sih ya, kadang suka pesimis, aku jg kadang merasakan itu, "bisakah aku membesarkan adik2ku dan membiayai mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi? Mengingat biaya pendidikan yg sangat mahal, dan kondisi masih pas-pasan. Mau dana dari mana...?????"
Klo mikir gitu memang ga abis2, yang ada cuman pusing n jadi pesimis terus.
Solusinya pasrah saja, jalani saja, mensyukuri apa yang telah ada, dan yakin saja bahwa smua rezeki sudah diatur-NYA
:)
myshant wrote on Jan 16, '07
pesen nang anak2, kon sekolah sing pinter ben oleh beasiswa mbak .... ben murah biaya sekolahe :)
aku karo mas mbakku ndisik dipeseni bapakku, kon sekolah sing bener, ben mlebu sekolah negeri, sing murah ...maklum anak'e pegawai negeri
dianadji wrote on Jan 16, '07
Sama nasehatnya Shan, Bapakku jug agitu. Belajar, belajar, belajar, kalau skeolah haru snegeri semua dari SD sampai kuliah.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help