Sya's posts with tag: artikelku

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag artikelku
Blog EntryFasilitas MCK Untuk Tamu IstimewaJan 17, '07 4:38 AM
for everyone

Rumah kedua orangtuaku berada tepat di pinggir jalan raya menuju tempat wisata candi Borobudur di kabupaten Magelang Jawa Tengah. Pada sekitar awal tahun 1990 bapakku mendirikan sebuah masjid tepat disebelah rumah kami. Saat itu masih jarang masjid yang berada di pinggir jalan raya besar, sehingga masjid yang didirikan oleh bapakku itu menjadi masjid yang sering didatangi oleh para wisatawan dari berbagai daerah yang hendak berwisata ke candi borobudur. Oleh bapakku masjid itu dinamai masjid Al-Furqon.


Hampir setiap hari selalu saja ada wisatawan dari luar daerah yang  singgah untuk melaksanakan sholat di masjid Al-furqon, baik dalam rombongan kecil yang hanya terdiri dari satu dua orang, rombongan keluarga yang terdiri dari satu atau dua mobil, sampai rombongan wisatawan besar yang terdiri dari beberapa bus pariwisata. Setiap kali ada wisatawan yang hendak sholat di masjid kami itu, bapak selalu memperlakukan mereka sebagai tamu yang sangat dimuliakan dan dihormati. “Mereka itu datang kesini untuk sholat nduk, berarti mereka-mereka itu tamu-tamu Allah yang harus kita perlakukan sebagai tamu-tamu terhormat …” begitu tutur ibu ketika suatu saat aku bertanya mengapa ibu dan bapak selalu memperlakukan mereka dengan istimewa.


Karena keterbatasan dana, saat itu masjid Al-furqon masih belum memiliki fasilitas yang memadai. Belum ada fasilitas untuk MCK dan tempat wudhu yang layak. Juga belum tersedia mukena, sajadah atau alat-alat sholat dalam jumlah yang mencukupi dan layak untuk dipakai. Oleh karena itu, setiap ada tamu atau wisatawan yang mampir untuk sholat disana, Ibu selalu menyediakan alat-alat sholatnya untuk mereka, sedangkan bapak akan mempersilahkan mereka semua untuk menggunakan kamar mandi Pribadi keluarga kami sebagai tempat MCK dan berwudhu bagi para tamu spesialnya tersebut tanpa dipungut bayaran sama sekali.


Saya seringkali dibuat jengkel oleh sikap Ibu Bapak yang selalu mengistimewakan dan mendahulukan para tamu itu. Jika yang mampir untuk sholat dan kemudian menggunakan kamar mandi Pribadi kami itu Cuma satu atau dua orang sih tidak masalah, tapi yang seringkali mampir adalah tamu dalam jumlah rombongan besar, beberapa bis sekaligus. Bisa dibayangkan berapa panjang antrean yang ada untuk menggunakan kamar mandi kami. Pernah suatu kali saya harus menahan hasrat buang air kecil karena menunggu begitu banyaknya orang yang antri di kamar mandi kami. Bayangkan, saya harus mengantri di kamar mandi sendiri, uh sungguh menyebalkan.


Pernah saya mengusulkan kepada orangtuaku untuk menarik biaya bagi mereka yang menggunakan kamar mandi keluarga kami untuk mandi atau kegiatan-kegiatan MCK lainnya. Tapi bapak justru memarahiku dan tidak menanggapi “ide gilaku” tersebut.


            Pernah juga pada suatu hari, ada sebuah dompet milik salah satu dari tamu kami yang ketinggalan di dalam kamar mandi kami. Saat itu aku dan adikku masih kanak_kanak . naluri jahat kami berbicara untuk tidak mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya saat kami menimbang_nimbang dompet itu bapak tahu  kemudian kami dimarahinya karena tidak segera mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya bapak berujar “kebahagiaan itu bukan karena harta  apalagi yang bukan menjadi hak kita tapi kebahagiaan itu kita dapatkan karena ketakwaan kita kepada gusti Allah”


            Tidak hanya dengan menyediakan alat sholat dan kamar mandi saja upaya yang dilakukan orangtuaku untuk memuliakan tamu-tamu itu, tapi juga dengan memberikan suguhan ala kadarnya, mulai dari teh hangat , kue-kue atau buah-buahan yang ada di kebun samping rumah kami. Ada salak pondoh  dan rambutan yang jika musimnya berbuah sering dijadikan suguhan untuk tamu wisatan kami itu. Sekali lagi semuanya tidak dipungut bayaran. Memang sering ada beberapa orang yang hendak memberi kami uang sebagai pengganti, tapi semua selalu ditolak oleh bapak atau ibu. Akhirnya, kebanyakan dari mereka selalu mengisi kotak amal yang ada di masjid.


            Alhamdulilah, dari seringnya para wisatawan yang datang sholat di masjid Al-furqon, dan semakin seringnya mereka mengisi kotak amal di masjid tersebut, maka sedikit demi sedikit terkumpul dana untukpembangunan fasilitas MCK di masjid Al-furqon. Sekarang, di masjid itu sudah dibangun fasilitas MCK yang memadai dan juga sudah tersedia peralatan sholat yang cukup bagus dan bisa dipakai oleh para tamu yang sholat di masjid tersebut. Inilah hikmah luar biasa yang didapat oleh orangtuaku dari kebiasaannya menghormati dan memuliakan tamu-tamu Allah itu.


Blog EntryDari Pecel Jadi DokterJan 16, '07 1:33 AM
for everyone

 

         Kok suwe ora tau mecel to mbak e ? “ Tanya bu’e padaku siang itu. Ibu setengah baya itu bertanya padaku kenapa aku sudah lama tidak membeli pecel darinya untuk makan siang di kantor. “Nggih, bu’e, sakniki kulo mbeto sangu maem piyambak “ jawabku memberikan alasan.

Dua tahun yang lalu, ketika masa-masa aku hamil dan menyusui anakku, setiap hari tak pernah terlewatkan, aku selalu membeli pecel sayur itu untuk menu makan siangku. Selain harganya murah, juga kebutuhan akan vitamin dan gizi banyak aku peroleh dari sayur-sayuran seperti bayam, kacang panjang, kangkung, taoge dan sayur-sayuran lain yang dicampur oleh bumbu pecel si bu’e.  Tahu dan tempe bacem yang juga dijual oleh bu’e  juga enak.

Namun semenjak aku punya asisten yang tinggal dirumahku, aku selalu dibuatkan bekal untuk makan siang di kantor. Dengan membawa bekal makanan sendiri selain bisa lebih irit, masakan dari rumah juga lebih terjamin kebersihan dan kehalalannya. Tetapi kekurangannya, aku menjadi kurang gaul dengan para pedagang makanan yang ada di sekitar kantorku, salah satunya, ya penjual pecel  sayur itu. “Karo peyek kacang opo ora mbak ‘e? “ Sahut pak’e, suami si bu’e, menanyakan padaku apa aku mau membeli rempeyek kacang buatan mereka yang lezat gurih itu. “Nggih  pak’e , setunggal bungkus kemawon.. Pak’e  memasukkan sekantong rempeyek kedalam tas plastik hitam, satu bungkus rempeyek seharga tiga ribu rupiah itu lezat dan gurih rasanya, membuatku selalu tidak melewatkan kesempatan untuk membelinya.

Seperti hari-hari biasanya, pecel yang dijual oleh sepasang suami-istri setengah baya itu selalu rame dikunjungi para pekerja kantoran yang berkantor di sekitar gedung JDC, Wisma Indra Mas atau Gedung dana pensiun telkom Slipi tempat kantorku berada.  Lokasi penjual pecel itu tepat berada di pinggir jalan, di depan gedung Wisma Indra Mas, Jl KS Tubun perempatan Slipi-Palmerah.

Saat jam 12 tepat waktu istirahat para pekerja kantoran, saat itu pula pecel langsung diserbu, biasanya untuk mendapatkan sebungkus pecel yang kita inginkan, kita bisa membutuhkan waktu sekitar sepuluh sampai dengan dua puluh menit untuk mengantri.

Agar tidak terlalu lama mengantri biasanya aku akan curi start waktu istirahat yang artinya aku akan keluar dari kantor untuk mencari makan siang setengah jam sebelum waktu istirahat, yang berarti jam setengah dua belas siang. Dengan demikian, aku bisa terbebas dari desak-desakan dengan pekerja lain, selain itu aku akan mendapat kesempatan untuk sedikit mengobrol dengan sepasang suami-istri penjual pecel sayur tersebut.

Aku tidak tahu siapa nama mereka sebenarnya, selama ini aku hanya memanggil mereka dengan panggilan bu’e untuk sang istri dan pak’e untuk memanggil sang bapak. Aku memanggil begitu karena mereka selalu memanggilku dengan panggilan mbak’e . Mereka berasal dari daerah Gunung kidul, Yogyakarta.

Mereka berjualan pecel sayur di Jakarta ini sejak dari tahun 1985. Awalnya mereka berjualan secara berkeliling dari rumah ke rumah di daerah kemanggisan dan sekitarnya. Namun beberapa tahun belakangan ini mereka sudah tidak berjualan keliling lagi. Mereka sudah memiliki tempat berjualan yang letaknya strategis, di pinggir jalan, depan gedung Wisma Indra Mas, Jalan KS Tubun Jakarta. Tempat mereka berjualan bukanlah warung, tapi  bisa dikatakan sebagai pedagang kaki lima, hanya dengan meja kecil mereka meletakkan sayur-sayur, lontong, tahu dan tempe bacem, serta rempeyek dagangan mereka. Sebenarnya di daerah itu dilarang ada penjual kaki lima, seringkali bu’e  dan pak’e  harus kucing-kucingan  dengan petugas satpol PP yang beroperasi menertibkan para pedagang kaki lima di daearah situ.

Tugas sepasang suami-istri dalam  berjualan pecel itu dibagi  berdua, bu’e  yang akan melayani, meracik berbagai macam sayuran kemudian dicampur dengan bumbu pecel dan dibungkus kertas. Sementara pak’e , beliau akan memasukkan bungkusan rempeyek ke dalam plastik kresek hitam sekaligus bertugas sebagai kasir yang menerima pembayaran dan pengembalian uang sisa pembelian dari pembeli. Mereka terlihat harmonis dan selalu tampil ceria melayani para pembeli.

Keceriaan mereka itu seolah menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang optimis dalam berikhtiar mencari rejeki. Seporsi pecel  yang ditambah dengan satu buah lontong dihargai sebesar tiga ribu rupiah. Sedangkan tempe dan tahu bacem masing-masing seharga lima ratus rupiah. Rempeyek kacang harganya tiga ribu rupiah sedangkan rempeyek tempe harganya lima ribu rupiah per bungkus. Semua makanan tersebut dibuat sendiri oleh bu’e kecuali lontong. Untuk lontong dia membeli dari orang lain kemudian mengambil untung sebesar dua ratus rupiah per buahnya.

Dari hasil menjual tempe dan lauk-pauk itu ternyata mereka memperoleh keuntungan yang lumayan. Mereka berhasil membiayai kedua orang anaknya di Yogyakarta kuliah sampai tingkat sarjana. Anak pertama mereka , seorang perempuan, berhasil lulus dari sebuah perguruan tinggi di yogyakarta dan sekarang ini bekerja sebagai seorang guru SLTA di salah satu SLTA di yogyakarta. Sedangkan anak keduanya, laki-laki, saat ini sedang menempuh pendidikan di UGM jurusan kedokteran, semester akhir. “Sedelo meneh anakku dadi dokter lho mbak’e..” ucap bu’e  dengan wajah gembira. “Alhamdulilah nggih bu..”  jawabku. Kemudian Pak’e  menceritakan suka-duka mereka mencari nafkah di Jakarta ini. Ternyata tidak semulus yang dikira, pengalaman mereka dikejar-kejar operasi satpol pamong praja  sampai dengan pengalaman mereka dipalaki preman PKL mewarnai perjuangan mereka sehari-hari dalam mencari nafkah. Namun berkat ketekunan dan rasa optimis yang tinggi mereka mampu mewujudkan mimpi mereka yaitu memiliki anak-anak yang berpendidikan tinggi dan kemudian menjadi orang sukses.

Sebagai orangtua, kadangkala aku sendiri sering merasa pesimis dengan nasib pendidikan anakku nanti. Sekarang ini saja biaya pendidikan sudah selangit, bagaimana dengan lima belas tahun nanti ketika saat itu anakku harus memasuki jenjang perguruan tinggi? ah, aku tak berani membayangkannya. Tapi, dengan mengingat kisah hidup bu’e pak’e  ini, semangatku bisa tumbuh kembali. Mereka yang hanya berjualan pecel saja mampu menyekolahkan anakknya di kedokteran, kenapa aku tidak? Selama kita bisa optimis dan tetap tekun berusaha, pasti akan ada jalan menuju tercapainya impian yang kita inginkan. Bu’e dan pak’e telah membuktikannya bahwa ketekunan dan optimisme ternyata bisa merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi sesuatu yang mungkin terwujud. Jadi, haruskah kita Optimis? Pasti.


Blog EntryPenyesalankuJan 8, '07 10:00 PM
for everyone

Aku terpancing ketika mendengar ledekan temanku yang mengatakan bahwa aku tidak pandai berbelanja. Aku dikatakan tidak pandai berbelanja karena setiap aku berbelanja ke pasar, aku tidak pernah menawar harga yang ditawarkan oleh pedagang. Bukan karena tidak berani, tapi lebih karena kasihan kepada mereka. Sedangkan temanku itu, walaupun hanya lima ratus rupiah, dia pasti akan mati-matian menawarnya. Memang bagi ibu-ibu rumah tangga sepertiku dan juga seperti temanku itu, uang sisa belanja jika dikumpulkan bisa untuk memenuhi kebutuhan yang lain. Makanya semenjak aku diejek seperti itu, aku bertekad akan mulai belajar menawar saat aku berbelanja apapun dan kepada siapapun.

Suatu hari, aku melihat seorang bapak penjual pisang kepok lewat depan rumahku. Sebenarnya aku tidak sedang ingin makan pisang kepok, tapi dalam rangka ingin belajar menawar, aku memberhentikan pedagang pisang itu. “Berapa harga pisang kepok ini pak? “ tanyaku kepada bapak penjual pisang itu. “Enam ribu ya, neng..” jawabnya kemudian. Aku ragu, batinku bergejolak melawan keinginanku untuk tidak menawar harga pisang itu. Kasihan bapak penjual pisang itu sudah tua. Tapi saat aku teringat ejekan temanku, maka kemudian aku harus menawarnya . “Lima ribu aja deh pak..” tawarku. Si Bapak setuju dan langsung membungkuskan pisang itu untukku. Puas, aku berhasil menawarnya.

Sambil memberikan uang kembalian kepadaku, bapak pedagang pisang keliling itu bercerita sedikit tentang kisah hidupnya padaku. Sebenarnya sudah lama sekali aku ingin tahu lebih tentang hidupnya, setiap kali beliau ini lewat di depan rumahku, hatiku selalu bertanya-tanya, kenapa dalam usia yang sudah renta seperti itu beliau masih berjualan memanggul berpuluh-puluh kilo pisang. Pekerjaan yang sangat berat untuk laki-laki setua beliau ini. Namanya Bapak Mursyid, beliau lahir pada tahun 1915. Itu artinya usia beliau saat  ini sudah 91 tahun.  Rumahnya berada di gang nyamuk kampung Pondok Jaya, Depok. Beliau masih memiliki seorang istri dan beberapa orang anak yang semuanya sudah berumah tangga dan hidup masing-masing, tersebar di beberapa daerah sekitar Pondok Jaya.

Jika orang-orang lain seusia Pak Mursyid ini kebanyakan sudah tidak lagi bekerja berat mencari nafkah untuk keluarganya, tinggal hidup tenang di masa tuanya. Tidak demikian dengan Pak Mursyid, jika beliau tidak bekerja menjual pisang keliling, maka beliau tidak akan bisa memberi makan baik untuk dirinya maupun untuk istrinya sendiri. Memang anaknya banyak dan sudah bekerja, tapi mereka juga hidup dalam kondisi perekonomian yang memprihatinkan. Jangankan untuk memikirkan kehidupan orangtuanya, bahkan untuk memikirkan kehidupan mereka saja sudah sangat susah. Begitu tutur pak Mursyid padaku.

Setiap pagi, Pak Mursyid harus berbelanja pisang di pasar Citayam dengan naik ojek sepeda motor tetangganya, biasanya pisang yang dia beli adalah jenis pisang tanduk, tapi karena saat ini pisang tanduk langka di pasaran, maka beliau memilih pisang kepok yang akan dijualnya. Siangnya, beliau akan memanggul pisang-pisang itu dengan menggunakan keranjang dan berjalan kaki berkeliling di sekitar kompleks permata depok untuk menjajakan dagangannya. Badannya yang sudah tak sekuat masa mudanya membuatnya dia hanya berjalan pelan-pelan tertatih-tatih dari satu blok ke blok lainnya. Jika kita lihat fisiknya, maka akan nampak keriput kulit wajahnya telah rata. Giginya sudah ompong, badannya sudah lemah, namun satu yang masih kuat di dirinya yaitu : Semangat.

Aku lemas, mendengar tuturan kisah hidupnya. Apalagi ketika beliau berujar “Sudah dua minggu ini saya tidak dagang neng, saya sakit.  Saya berobat menghabiskan uang empat ratus ribu rupiah”. Empat ratus ribu rupiah bagi seorang pedagang pisang keliling seperti itu tentu jumlah yang sangat besar. Entah itu penghasilan berapa bulan.Yang pasti lebih dari satu bulan. Pak Mursyid berlalu, setelah menolak ketika aku tawarkan untuk mampir ke rumahku barang sejenak.

Setelah kepergian pak Mursyid, hatiku  merasa tambah pilu, membayangkan betapa susahnya kehidupan Pak Mursyid dan keluarganya. Tiba-tiba rasa bersalah menyeruak dalam diriku, seharusnya aku tidak perlu menawar harga pisang yang beliau tawarakan itu. Oh, betapa bodohnya aku ini. Hanya karena ejekan seorang teman, aku menjadi tega mengurangi penghasilan yang seharusnya diperoleh oleh Pak Mursyid. Apa artinya seribu rupiah bagiku dibandingkan dengan susahnya hidup Pak Mursyid. Ketika aku menceritakan penyesalanku itu kepada suamiku, suamiku tambah menyalahkanku. “Dasar ibu-ibu !, suka pelit dengan pedagang kecil, tapi kalau belanja di toko supermarket besar tidak berani menawar “. Memang selama ini suamiku selalu menyarankan padaku untuk tidak usah menawar saat berbelanja kepada para pedagang kecil, seperti pedagang sayur, pedagang buah, atau pedagang-pedagang keliling lainnya. “Berikan rejeki lebih kepada orang-orang tak mampu seperti mereka, kita tak perlu menawarnya” begitu ujarnya. Bahkan beberapa hari lalu ketika suamiku memanggil tukang sol sepatu untuk menambal sepatunya yang rusak, dia dengan senang hati menyuguhinya makanan dan lauk-pauknya, serta sama sekali tidak menawar harganya.

Dalam kesendirianku di sepertiga malam ketika aku bersujud kepadaNya, Aku berinstrospeksi diri, memikirkan tindakanku yang kurang adil kepada pak Mursyid  Air mataku meleleh satu persatu membayangkan kesusahan hidup keluarga Pak Mursyid, aku tak tega jika nasib serupa menimpa orangtuaku atau keluargaku sendiri. Kusadari kekhilafanku, keegoisanku. Ya Allah, semoga Engkau mengampuni kesalahanku. Dan aku berjanji mulai saat ini tidak akan menawar harga pada para pedagang kecil seperti Pak Mursyid itu. Biarlah temanku tetap mengejekku tidak pandai berbelanja, yang penting aku tidak mendzalimi pedagang-pedagang kecil itu lagi.


Blog EntrySuami PilihanDec 21, '06 12:06 AM
for everyone

             Belum terlalu lama saya mengenalnya, baru sekitar 3 bulan lalu semenjak saya memutuskan untuk berlangganan ojeg dengannya. Tarif ojegnya lebih murah dibanding dengan yang ditawarkan tukang ojeg lainnya. Jika yang lain meminta Rp 7000 , dia hanya meminta Rp 5000 untuk pengganti jasa mengantarkanku dari stasiun Tanah Abang menuju kantorku di Slipi. ak Asmadi namanya, usianya sudah kepala empat, ia mengaku sudah delapan belas tahun menjalani profesinya sebagai tukang ojeg.

            Pertemuan yang hampir tiap hari dengannya, membuat saya tahu tentang sedikit kisah hidupnya, kadangkala saya dibuat kagum ketika darinya saya peroleh kata-kata bijak, nasehat, layaknya seorang bapak yang sedang menasehati anaknya.

            Siapa menyangka kalau tukang ojeg yang hanya lulusan SLTA itu mempunyai seorang istri yang berpangkat eselon 3 di salah satu kantor pemerintahan di Jakarta. Istrinya adalah lulusan pasca sarjana dari salah satu universitas negeri di Jakarta. Ketiga anak yang dimilikinya semua juga berpendidikan sarjana, hanya Pak Asmadi sendiri yang hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat SLTA. Dari hasil menarik ojeg itulah Pak Asmadi membiayai anak-anaknya kuliah. Kadangkala Pak Asmadi juga mencari tambahan penghasilan lain misalnya dengan berdagang kambing ketika mendekati hari raya Idul Adha.

            Awalnya, saya berpikir hal ini sebagai sebuah kemustahilan, di benak ini selalu saja timbul pertanyaan ”Bagaimana mungkin Pak Asmadi seorang tukang Ojeg itu bisa memiliki seorang Istri yang berpendidikan dan berjabatan tinggi di kantor pemerintahan?”. Ada rasa tak percaya sampai di kemudian hari Pak Asmadi memperlihatkan pada saya foto Istrinya sedang dilantik oleh salah satu menteri.

”Ini mbak, foto istri saya waktu dilantik oleh Pak Mentri, dan yang satunya itu foto saya sewaktu mendampinginya...” Tunjuk Pak Asmadi. Terlihat foto seorang wanita yang sedang bersalaman dengan seorang menteri, dan sebuah foto lagi menampilkan foto bersama seluruh jajaran pejabat dengan para pasangannya, kulihat Pak Asmadi memang ada di situ dengan baju batik coklatnya. Dari wajahnya memancar senyum bahagia begitu pula dengan istrinya.

                                                       ****

            Saya sering melihat rubrik kontak jodoh di salah satu media cetak di Ibukota. Bukan, Bukan karena saya berniat ingin mencari jodoh lagi, tapi hanya sekedar iseng yang benar-benar iseng . Siapa tahu ada teman yang mengiklankan diri disitu, kan bisa jadi bahan ledekanku untuknya.

Salah satu contoh isi iklan perjodohan yang sering kulihat itu adalah seperti ini misalnya:

 

            Seorang wanita, 25 tahun, Sarjana, tinggi badan 160 cm, bb 43 kg, berkulit putih mulus, wajah manis, Islam, pintar mengaji, keibuan dan Pandai Memasak

 

Mendambakan:

 

            Seorang laki-laki, perjaka tulen, minimal 26 tahun, lulusan pasca sarjana, berpenghasilan tetap (swasta/PNS), tinggi badan minimal 170 cm dengan berat badan seimbang, Islam taat, Pandai mengaji dan bersifat kebapakan.

 

Coba kita lihat iklan tersebut, dan perhatikanlah niscaya kita akan menemukan sebuah fakta bahwa seorang wanita pada umumnya menginginkan pasangan (calon suami) yang memiliki spesifikasi yang lebih baik dari spesifikasi yang dimilikinya. Baik itu dari segi fisik, tingkat pendidikan atau hal-hal kasat mata lainnya. Menurut saya hal ini sangat wajar. Karena bagaimanapun juga seorang lelaki akan menjadi pemimpin dalam sebuah rumah tangga, jadi semakin bagus kualitasnya akan semakin baik bagi keluarganya kelak. Begitu kondisi idealnya.

                                                            ****

 

            Kembali kepada kisah Pak Asmadi dan istrinya, saya menjadi tersadarkan bahwa ternyata tidak semua wanita  melihat kualitas calon suami hanya dari kasat mata yang tampak saja. Rasa penasaran saya muncul menggelitiki hati, membuat saya secara diam-diam ingin menyelidiki apa alasan Istri Pak Asmadi begitu bangga dan mencintai suaminya yang ”hanya” seorang tukang ojeg dan hanya berpendidikan setingkat SLTA. Sementara istrinya adalah wanita karir yang sukses yang memiliki pendidikan dan jabatan yang tinggi. Tidak ada rasa malu padanya akan ”kesenjangan”  itu.

Suatu hari dalam perjalanan menuju kantor, Pak Asmadi mengajukan sebuah pertanyaan pada saya ”Mbak, tahu ngga resep saya supaya tidak pernah mengalami kecelakaan di jalan atau supaya tidak pernah kena razia polisi jalan?”

Saya pura-pura berpikir lantas menjawab ”hmm... tidak tahu pak, apa resepnya?”

”Berdzikir mbak..” jawabnya.

”Berdzikir itu mengingat kepada Allah, bisa dilakukan dimana saja, kalau kita sehabis melaksanakan sholat baik itu sholat fardhu atau shola sunnah, usahakan jangan langsung kAsmadir dan berdiri, dzikirlah terlebih dahulu. Dzikir juga tidak hanya dilakukan setelah sholat, tapi bisa dimana saja, termasuk di jalan raya ketika mengendarai sepeda motor seperti saya ini”

”Bapak rajin ber-dzikir? ” saya bertanya untung memancing.

“Alhamdulilah mbak, setiap selesai sholat saya selalu berdzikir, bahkan dalam perjalanan saya dari rumah sampai ke stasiun saya juga selalu berdzikir, kalau tidak salah ada dalam Al-quran perintah untuk mengingat Allah dalam keadaan duduk maupun berdiri, itu artinya dalam keadaan apapun kita harusnya selalu mengingat Allah kan mbak?”

“Iya, betul pak, Berdzikir dengan mengingat Allah membuat hati kita merasa tenang dan tentram, itulah mungkin yang membuat Bapak jadi tidak pernah mengalami kecelakaan saat mengendaria sepeda motor, karena saat itu Bapak berdzikir sehingga pikiran dan hati Bapak menjadi tenang, berkendaraan pun jadi tenang jawabku menyimpulkan.

 

            Ternyata dari Pak Asmadi, terdapat banyak hikmah. Saya bisa memunguti hikmah-hikmah itu untuk diri saya. Sekaligus menyadari bahwa Pak Asmadi ternyata orang yang taat beragama lagi berakhlak mulia, wajarlah jika sang istri begitu mencintainya.

                                                            ***

            Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasullullah pernah bersabda

”Jika datang kepada kalian orang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia, karena jika tidak maka akan menjadi fitnah di bumi dan juga kerusakan .”

Para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, meskipun pada diri orang tersebut terdapat kekurangan?” Beliau menjawab, ”Jika ada orang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian, maka nikahkanlah dia”

 

            Artinya, jika kalian tidak menikahkan orang laki-laki yang taat beragama lagi berakhlak mulia meskipun tidak kaya atau tidak terhormat atau tidak kufu’, sedang kalian lebih menyukai orang laki-laki yang kaya, terhormat, lagi terpandang meskipun tidak taat beragama dan tidak berakhlak mulia, niscaya hal tersebt akan mengakibatkan kerusakan yang parah. Mungkin akan banyak wanita yang hiduo tanpa suami dan banyak pula laki-laki yan hidup tanpa istri. Akhirnya banyak perzinaan san tersebar pula perbuatan keji.

            Rasulullah SAW menyebutkan akhlak bersaaan dengan agama, karen akhlak berperan sangat penting sekali dalam kehidupan rumah tangga. Rasulullah tidak cukup hanya dengan menyebutkan agama saja, Sebab, terkadang ada orang yang taat beragama tetapi akhlaknya tidak cukup baik untuk kehidupan rumah tangga, bahkan berakhlak tercela dan berwawasan sempit serta fanatik sehingga dia akan meletakkan agama di sampingnya dan menggauli istrinya dengan akhlak yang tidak baik . Akhirnya muncul kesan bahwa tingkah laku bururk itu disebabkan oleh agama. Padahal yang demikian itu merupakan keyakinan yang salah, karena Agama memerintahkan untuk mempergauli istri secara baik.

                                                             ***

            Kini terjawablah sudah rasa kepenasaran saya. Istri Pak Asmadi ternyata benar-benar telah menjalankan sabda Rasullullah SAW tersebut. Menentukan suami pilihannya adalah seorang yang taat beragama dan berakhlak mulia meskipun tidak kaya, tidak terhormat atau tidak se kufu’ dengannya. Satu pelajaran berharga yang bisa saya ambil darinya.


Blog EntrySabar Menyikapi TakdirDec 19, '06 10:19 PM
for everyone

 

Pada sore hari yang mendung, aku duduk membaca berita dari surat kabar pagi yang baru sempat dibaca sore harinya. Sedih, membaca cerita ada orangtua yang hendak membunuh anaknya dengan alasan karena mereka hidup miskin. Sambil beristigfar hatiku berbisik liri,  ternyata kemiskinan telah membutakan mereka membawa mereka  menjadi orang yang kufur bahkan bisa menjadi kafir. Naudzubillah.

Dari kejauhan terdengar suara bapak penjual gorengan berteriak-teriak menjajakan gorengannya. ”Comro..,Misro..., nasi uduk, tempe goreng...” Suara si bapak tedengar begitu keras mengagetkan lamunanku. Segera kumemanggilnya ”Comro dan misro pak..!”. ”Oke Mbak.!” si bapak menghampiriku. ”3 ribu aja pak, sebentar saya ambil piringnya ” sahutku sambil lari kedalam rumah mengambil piring. Sedangkan anakku yang berumur 2 tahun malah lari keluar mendekati si bapak, mereka memang sudah akrab bahkan anakku memanggil bapak penjual gorengan itu dengan panggilan Pak De. Ketika aku kembali sampai di tempat mereka berada mereka sedang bercanda ria. ”Ini bu, saya tambahin dua misronya, bonus..” katanya sambil tersenyum ramah. Seperti biasa bapak ini memang selalu memberiku bonus. ”Makasih pak...” jawabku sambil mengigit misronya. Rasa manis misro itu membuatku lupa akan cerita pahit yang baru saja kubaca dari surat kabar tadi.

Manis tutur kata dan perilaku bapak penjual gorengan itu  yang selalu dihadirkan pada setiap pembelinya, seolah menutupi pahitnya kisah hidupnya sendiri. Pak Pardi nama beliau, umurnya sudah tidak muda lagi, kuperkirakan sudah kepala lima.Pak Pardi tinggal di kampung yang letaknya bersebelahan dengan kompleks perumahakn dimana aku dan keluargaku tinggal, Pondok Jaya nama kampung itu. Dari kompleksu ada jalan akses yang bisa langsung menuju kampung pondok jaya , tak heran jika Pak Pardi dengan leluasa bisa berdagangan di kompleks, karena memang jaraknya dekat sekali.

Kisah pahitnya kehidupan Pak Pardi dan keluarganya berawal saat kompleks perumahanku ini mulai dibangun. Banyak sekali tukang bangunan yang bekerja membangun rumah-rumah di komplek. Pak Pardi dan istrinya berjualan nasi,sayur, lauk-pauk dan makanan-makanan kecil lainnya untuk melayani kebutuhan makan dari para tukang bangunan dan mandornya di kompleks itu. Para pekerja bangunan itu dibayar secara borongan jika pekerjaan mereka sudah selesai, sehingga untuk membayar makan mereka harus berhutang dulu kepada Pak Pardi dan istrinya, tidak ada jaminan apa-apa dalam hutang itu, hanya bu Pardi tiap hari mencatat siapa-siapa saja yang berhutang dan berapa jumlah hutangnya per hari. Proyek pembangunan itu berjlan kurang lebih satu tahu, dan selama itu pula para tukang bangunan itu belum membayar hutangnya pada Pak Pardi dan Bu Pardi, hanya ada segelintir tukang yang mau membayar hutangnya itupun hanya dibayarnya sebagian saja.

Sementara untuk modal dagang sehari-hari Pak Pardi mengambil hutang dari bank keliling alias rentenir kampung. Nasib sial dialami Pak Pardi dan istrinya ketika mereka sudah kehabisan modal dan sudah terjerat banyak hutang dari rentenir, mereka pun berniat menagih hutang-hutang para tukang banguan dan mandor-mandor yang sering  makan dari warung mereka, akan tetapi  hampir semua tukang dan mandor itu sudah pergi,tidak berada di wilayah komplek lagi, kabur tanpa kabar, karena ternyata proyek pembangunan rumah sudah selesai. Pak Pardi dan istri tertipu.

Shock tentu saja mereka, apalagi hutang dari rentenir itu sudah beranak pinak bunganya. Akhirnya mereka terpaksa menjual rumah mereka untuk melunasi hutang-hutang itu. Dan mereka menyewa rumah petak tepat persis di depan rumah yang telah mereka jual itu. Betapa sedih mereka setiap hari harus menghadapi kenyataan bahwa rumah yang tepat berada di rumah petak kontrakannya itu dulunya adalah rumah mereka.

Aku hanya tertegun, ikut merasakan kesedihan mereka, ketika Bu Pardi dan suaminya menceritakan kisah hidupnya kepadaku ketika awal aku pindah ke keomplek itu. Sambil memasukkan kayu bakar di tungku penggorengan di ruma petaknya Bu Pardi sesekali terisak menangis . ”Beginilah Mbak, bodohnya saat itu kami terlalu percaya begitu saja kepada para tukang bangunan itu, ternyata mereka bajingan semua, bahkan mandor kontraktornya pun tidak mau bertanggung jawab..” kata Bu Pardi.

”Kami yakin ini takdir sih Mbak, namun kami juga tidak mau pasrah begitu saja tanpa usaha, kami sudah berusaha mencari-cari keberadaan para tukang bangunan ini, tapi nihil hasilnya, karena mereka semua sudah pulang ke jawa...” sahut Pak Pardi menambahkan.

”Sekarang kami sudah tidak punya apa-apa lagi mbak, setelah satu-satunya harta yang kami miliki telah kami jual untuk membayar hutang dari rentenir, terpaksa kami menyewa rumah petak kecil ini.” tutur bu Pardi sedih.

Mereka juga menyebutkan jumlah kerugian yang mereka alami yang mencapai puluhan juta rupiah. Tak heran aku mendengar jumlahnya, karena jika satu orang saja sehari makan minimal dua kali dia akan berhutang sepuluh ribu rupiah per hari maka jika dia hutang selama setahun sudah satu setengah juta lebih totalnya. Dan itu masih harus dikalikan dengan jumlah tukang yang berhutang yang  berjumlah puluhan orang.

            Hari-hari berlalu, musibah yang dialami keluarga Pak Pardi mereka hadapi dengan sabar. Mereka juga berusaha bangkit perlahan-lahan untuk kembali berjualan gorengan. Kini merka berjualan di lingkungan komplek kami. Dengan menjajakan dagangannya dari pintu ke pintu Wajah-wajah ceria  dan ramah selalu menghiasi wajah Pak Pardi maupun Bu Pardi, mereka adalah orang-orang yang kuat dalam menghadapai cobaan hidup. Aku harus bisa memetik pengalaman hidup mereka sebagai sebuah hikmah agar bisa meniru kesabaran mereka dalam menghadapi cobaan.

Allah swt telah berfiman ”Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan,  kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ”Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan secara sempurna dan rahmat dari tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ”(Al-Baqarah : 155-157)

Seorang muslim yang benar adalah seorang yang mampu menanggung musibah-musibah yang dialaminya dengan teguh dan sabar dengan keyakinan bahwa Allah swt akan memberikan hikmah yang terbaik untuknya. Seorang yang beriman, tentu mengetahui bahwa takdir Allah swt akan menjadi kebaikan baginya, baik di dunia maupun di akherat kelak. Pahala dari sabar adalah syurga.

Anak, Istri/Suami dan harta benda yang kita miliki  bisa merupakan ujian dari Allah swt  dan jika suatu saat Allah swt berkehendak menguji atau bahkan mengambilnya kembali, tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali bersabar dan tidak lantas berputus asa. Rasulullah saw telah memperingatkan kita agar tidak berputus asa, karena dengan berputus asa, seseorang justru akan menyiksa diri sendiri. Lihatlah kasus orangtua yang membunuh anaknya karena mereka miskin, itu adalah salah satu contoh orang yang berputus asa dari rahmat Allah swt. Seandainya mereka mau berusaha, Insya Allah, Allah swt akan membukakan pintu rejekinya untuk mereka. Namun jika mereka hanya berputus asa bahkan sampai membunuh anaknya, saya yakin justru mereka akan menderita, selain mendapat dosa, batin mereka akan tersiksa.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help