(Kilas balik perjuangan ASI ekslusive untuk anakku)
“Pastikan pada para perawat bahwa aku akan memberi ASI ekslusif pada anakku, jangan biarkan mereka menambahkan susu formula atau apapun kepada bayiku “ pesanku kepada suami sebelum aku dioperasi cesar kala itu. Saat itu aku hendak melahirkan anak keduaku di sebuah rumah sakit ibu dan anak di bilangan Depok. Volume ketuban yang sudah dibawah normal membuat dokter mengharuskanku melahirkan secara cesar.
Di ruang operasi, aku sepenuhnya sadar. Obat bius lokal yang memati rasakan bagian bawah tubuhku, ternyata tak mempengaruhi kesadaranku. Selama berjalannya operasi aku bahkan bisa melihat saat tubuh bayi kecilku yang masih bersimbah darah dikeluarkan dari perutku. Aku pun bisa melihat plasenta yang terburai keluar dari perutku. Sambil bercanda ria dengan para medis, dokter kandunganku menjalankan tugasnya dengan seksama. “Dokter..inisiasi dini dokter…” jeritku cerewet mengingatkan sang dokter agar tak lupa melakukan proses inisiasi menyusu dini padaku dan bayiku. “Bentar ya bu, hidung bayi ibu tersumbat sesuatu, kami harus menyedotnya terlebih dahulu” proses Inisiasi menjadi tertunda. Masih di ruang operasi, tapi bergeser dari tempat semula aku dibedah. Tak lama kemudian sang bayi diberikan kepadaku dan diletakkannya di dadaku. Kubiarkan dia berada di dadaku, berusaha mencari-cari sumber kehidupannya, air susu ibu.
“Nggak bisa begitu dong suster, saya nggak mau dipisahkan dengan bayi saya, terlebih saat-saat dia mau menyusui seperti ini “ Protesku ketus kepada salah satu perawat yang ingin mengambil bayiku saat hendak kususui di ruang perawatan. “Ibu, ini saatnya bayi dimandikan, dan setelah itu ada kunjungan dokter anak, jadi bayi ibu harus ada di ruang bayi untuk diobservasi..” jawab sang suster. “Nggak bisa begitu dong sus, saya dulu mau melahirkan di rumah sakit ini karena dibilangnya di sini bisa rooming in (bayi sekamar dengan ibu), dan saya mengambil kelas utama di sini karena alas an itu, tapi kenapa kini bayi ini hendak dipisahkan denganku?” Aku berkata sambil nyaris menitikkan air mata. Saat itu suamiku sedang tak ada di sisiku, seandainya dia ada di sisiku saat itu pasti dia akan dengan berang menentang sang suster. Aku hanya bisa pasrah menatap sang suster membawa bayiku ke ruang bayi. Sedih dan kecewa dengan rumah sakit itu yang tak menepati janjinya.
Tak mau berlalu dalam kesedihan, aku segera memerah air susuku dan kemudian kutampung dalam botol. Saat itu hari keduaku setelah melahirkan. Kuberikan susu yang sudah kuperah kepada perawat di ruang bayi. Sambil masih menahan gondok di hati, aku curiga bayiku sudah diberi susu formula di ruang bayi “Suster, tadi ngasih susu formula ke bayiku ya?” tanyaku berang, nyaris membentaknya. Sang suster kaget “eh..eh tidak kok bu, kan suami ibu sudah berpesan bahwa bayi ibu akan diberi asi ekslusif..” . “Awas ya kalau dikasih susu formula, saya nggak akan melahirkan di sini lagi..! “
Terus terang aku kecewa dengan janji rumah sakit itu. Janjinya bisa rooming in, nyatanya meski aku sudah mengambil kelas utama, bayiku tetap saja dipisah denganku. Makanya aku ingin segera keluar dari sana secepatnya. Beruntung proses pemulihan pasca operasi cesarku terbilang cepat. Di hari kedua aku sudah mampu berjalan normal seperti biasa padahal pasien di kamar sebelah sampai hari ke lima pun dia belum mampu berjalan dengan normal, masih dibantu dengan kursi roda.
Setelah aku kembali ke rumah dengan bayiku, aku lebih lega, bayiku bisa setiap saat berada di dekatku dan bisa sepuasnya menikmati air susu ibunya. Kukibarkan bendera perjuangan, berjuang demi ASI ekslusive anakku.
“ Jasmine belum dikasih makan nih? Kelihatannya dia sudah mau makan tuh, tuh lihat dia suka memasukkan barang-barang ke mulutnya..” kata Ibu mertuaku di saat anakku masih berusia 3 bulan. Aku hanya tersenyum sembari menjawab “Tidak bu, Jasmine baru boleh makan setelah usianya enam bulan, sekarang ini hanya ASI saja yang boleh diminumnya”. Ilmu tentang ASI ekslusive ternyata belum sampai padanya, maklumlah orang tua jaman dahulu, suka memberi makan bayinya bahkan diusainya yang baru sebulan. Tak hendak memperlebar beda pendapat, aku hanya tersenyum setiap kali disindir bahwa Jasmineku sudah ingin makan karena hobinya memasukkan barang ke mulutnya.
“ASI Ekslusive buat ibu yang bekerja? Ah mana bisa? Itu kan hanya teori prakteknya tetap saja susah ..” komentar seseorang sinis memandang ibu bekerja yang bertekad memberikan ASI ekslusive pada anaknya. Aku hanya tersenyum, oh belum tahu dia, aku akan membuktikannya.
Tiba saatnya aku kembali bekerja. Setiap hari aku harus membawa perlengkapan perang ASI ekslusive yang terdiri dari cooler box, blue ice dan botol-botolnya. Agak ribet memang, tapi untung aku bisa memerah ASI secara manual dengan tangan, sehingga tidak ribet harus membawa pompa ASI lagi. Beruntung di kantor ada kulkas direksi yang jarang dipakai, sehingga aku bisa menitipkan ASI perah di sana selama jam kerja. Meski tidak ada ruangan khusus untuk ibu yang memerah ASI di kantor, aku masih bisa memakai ruang rapat saat tidak ada yang menggunakannya, di ruang workshop atau di toilet. Lucunya, meski kadang ruang rapat kosong, tapi aku lebih merasa nyaman memerah ASI di toilet karena kalau di ruang rapat atau workshop sering ada teman-teman kantor yang menggedor-gedor iseng menggoda. “Sudah selesai belum perah memerahnya, perlu bantuan nggak? “ Begitu biasanya teman kantor yang laki-laki sering menggoda. Risih juga, makanya aku lebih memilih menyendiri di toilet, toh toiletnya bersih.
Tak lengkap rasanya jika perjuangan tak dilengkapi adanya hambatan. Saat bayiku berumur 5 bulan, aku sakit demam selama beberapa hari. Stok ASI yang tersedia di rumah sudah menipis. Saat itu aku benar-benar was-was, khawatir perjuangan ASI ekslusive ini akan gagal. Meski badan meradang dan meriang, aku tetap berusaha memerah dan terus memerah ASI. Aku tak mau perjuangan ini gagal ditengah jalan.Tak hanya butuh tekad yang kuat untuk ini, aku harus mampu menerjang semua hambatan. Ini sebagai salah satu bukti cintaku pada anakku Jasmine.
Dan terbukti, setelah melalui beberapa ujian dan hambatan. Antara lain tekad , ketelatenan, kesabaran dan keakuratan strategi dalam memanaje ASI . Alhamdulilah, Jasmineku lulus ASI esklusive . Puji Syukur kupanjatkan padamu Ya Allah. Akhirnya aku mampu juga. Aku yakin, tak hanya sampai di sini perjuanganku. Masih banyak perjuangan lain yang harus kuhadapi di depan dalam mendidik dan membesarkan anak-anakku. Semoga Allah senantiasa membimbing kami dan anak-anak kami menuju ke jalanNya, jalan yang lurus yang telah dilalui hamba-hambaNya yang terdahulu.