Sya's posts with tag: curhat
Tak lengkap rasanya kalo perjuangan tak disertai adanya hambatan. Tak cukup hanya tekad yang dibutuhkan untuk memenangkan perjuangan ini. Kadang ada faktor 'x' yang tiba-tiba datang tak terduga, nyaris menggagalkan semuanya begitu saja.
Aku terbaring lemah tak berdaya, memandangi bayi kecilku yang kini telah berumur lewat 2 minggu dari 5 bulan. Akankah perjuangan ini gagal sampai di sini? . Tidak, aku tak akan menyerah !. Kuambil jaket, selimut, kaos kaki. Benda-benda yang bisa lebih menghangatkanku. Kuambil masker dan kupasang menutup mulutku lalu kususui anakku, bismillah, semoga dia tidak tertular penyakitku.
Aku menderita demam dan flu berat sejak 2 hari yang lalu. Badan menggigil disertai sakit kepala berat. Tak hanya itu, tiba-tiba perut juga ikut melilit-lilit perih. Kalau aku egois, tentu aku lebih memilih tidur dan tidur tanpa menghiraukan anak yang minta disusui. Kalau aku tergoda mungkin aku akan memberikan dia susu formula saja, daripada langsung menyusuinya.
Tapi, aku tak tega. Setelah kegagalanku memberikan asi ekslusive pada anak pertama. Sejak saat itu aku bertekad untuk tidak akan gagal pada anak selanjutnya.
Stok ASI yang selama ini tersimpan rapi di freezer. Makin lama makin berkurang karena jumlah ASI yang diminum anakku makin banyak. Sampai pada jumlah yang menurutku sudah tidak bisa diganggu gugat lagi, aku harus terus dan terus memerah, tak kenal menyerah demi yang terbaik buat buah hati.
Ya Allah, mudahkanlah perjuanganku... demi anakku.. Ini hanya sebutir kerikil yang menghalang, di tengah-tengah perjalananku menuju ASI ekslusive..
Bukan yang pertama kali aku menemukan kejadian ini. Bad habbitnya siapa entah aku tak tahu. Mungkin juga teman sekantorku, mungkin juga kantor tetangga yang se-lantai denganku. Di Toilet,masih menyisakan "sisa buangan" . Dengan manisnya "buangan" itu masih nongkrong di sana. Huekk maaf , aku aja mau muntah ngeliatnya.
Heran aja, kok bisa sih si empunya "buangan" itu lupa menekan tombol flush. Dan lagi bisa dipastikan bahwa si empunya itu tidak bersih-bersih pake air. Karena di samping kloset duduk kan tersedia selang semprot untuk cebok. Nah kalau selang semprot itu digunakan paling tidak "buangan" akan sedikit menghilang. Untuk membersihkan secara sempurna tinggal tekan tombol Flush aja. Tapi yang ada tadi sepertinya "buangannya" masih utuh . huek... duuhh... menjijikkan. Maaf ya kalo ceritanya menjijikkan. Buat pelajaran aja untuk kita supaya hati-hati, cek dan ricek dulu sebelum memutuskan keluar dari toilet :D
Beberapa hari belakangan ini suamiku mengeluhkan mual-mual. Aku sendiri malah ngga atau belom mual-mual nih sampe sekarang (semoga sih ngga deh..). "Bun, kok sekarang malah aku sih yang ngidam?" protes suami. Dia merasa mual-mualnya belakangan ini adalah gara-gara ngidam. Aku yang hamil kok dia yang ngidam sih, kontan aku tak setuju dengan pendapatnya "Ah, ngga itu ayah aja yang lagi masuk angin kali " kataku. "Enggak, bener ini kayaknya aku yang ngidam deh kali ini..kan sering denger kan ada laki-laki yang ngidam saat istrinya hamil?" katanya. "Pernah dengar sih, tapi itu kan cuma mitos, coba jelaskan secara medis bagaimana bisa begitu..? " . Dan suami pun terdiam, tak bisa menjelaskan secara medis, tapi teuteup dia masih ngotot bahwa mual-mualnya selama ini adalah ngidam.
Jadi bertanya-tanya nih, bener ngga sih suami bisa ngidam saat istrinya hamil???
Uhhh..lagi-lagi mempersoalkan tentang FTM dan bukan FTM. Makan sate campur sayur lodeh..capek deh.. Kenapa ya? di lingkungan kita (eh, di lingkunganku ding!) , terutama ibu-ibu itu susah sekali untuk menghargai sebuah perbedaan. Perbedaan di sini maksudnya adalah perbedaan profesi. Seorang ibu yang pekerja 'nyinyir' , mencibir tetangganya yang FTM . Begitu pula sebaliknya seorang FTM pun 'nyinyir ' ke tetangganya yang wanita pekerja.
Capek deh.. bener-bener capek aku kalau ngeliat hal yang satu ini. Sudahlah, masing-masing orang kan punya alasan sendiri-sendiri apakah dia mau jadi FTM atau jadi ibu pekerja. Tinggal bagaimana kita saling bertoleransi.
Kalau aku sendiri, meski aku bekerja, tapi dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku tak pernah menyepelekan mereka (ibu2 FTM), bahkan sebaliknya. Seringkali aku merasa salut dan bangga dengan mereka. Pengorbanan mereka kujunjung tinggi setinggi-tingginya. Karenanya aku bercita-cita someday bakal jadi FTM juga.
Dalam sebuah pengajian RT yang kuikuti akhir minggu lalu, seorang tetangga bertanya ke ustadzah "Ustadzah, ibu2 yang tidak bekerja seringkali iri melihat tetangganya / ibu pekerja, bagaimana sih menurut ustadzah sebaiknya? kita-kita yang disini susah payah mengurus anak dan keluarga, tapi mereka melenggang begitu saja meninggalkan rumah dan anaknya? " "Gubraks.." tersentil aku. Begitukah anggapan mereka terhadap ibu pekerja? Meninggalkan rumah dan anak begitu saja? Oh no.
Hhhh...tarik nafas dalam-dalam, tahan,tahan,tahan, lepaskan pelan-pelan. Ulangi sekali lagi. Begitu caraku pagi ini untuk sedikit melepaskan beban kesedihan yang kualami.
Pagi ini, aku berencana berangkat naik KRL jam 6.35 . Ketika aku sudah bersiap berangkat, Mirza mengangis sambil berkata "Bunda ngga boleh kerjaa..." , akhirnya aku tunda keberangkatanku. Berangkat yang jam 7.12 saja. Kusediakan waktu untuk bermain-main dengan Mirzaku. Ketika aku hendak berangkat lagi dan berpamitan dengannya, kembali Mirza menangis. Kali ini kuajak dia keluar rumah, sambil bermain-main dengan temannya. Sejenak dia lupa. Tapi begitu aku pamit lagi ke dia kalau bundanya ini mau berangkat kerja, sekali lagi dia menangis. Aku pun menunda keberangkatanku. Ah, naik yang jam 7.46 saja.
Kebetulan hari ini Ayah Mirza ada meeting di kantor Simatupang, jadi aku bisa diantar sampai di stasiun Depok lama. Waktu sudah menunjukkan pukul 7.15, kami harus bersiap berangkat. Kembali aku berpamitan dengan Mirza sembari naik mobil mengelilingi blok satu putaran. Ketika aku mencium dan menyalaminya, kembali dia menangis..kali ini tangisannya lebih keras dan lebih dahsyat. Aku yang selama ini mampu menampakkan wajah ceria di saat-saat seperti ini, kali ini tak mampu membendung air mata. Setitik demi setitik air mataku menetes namun aku segera menghapusnya. Aku tak mau Mirza melihatku menangis.
Kumasukkan Mirza ke rumah. Kuputar CD Dora kesukaannya dan aku keluar, berangkat kerja. Maafkan Bunda sayang.
Di dalam mobil, tak mampu menahan bendungan air mata. Aku menangis, terisak, sesenggukan dan lama kelamaan semakin keras. Suamiku yang sedang nyetir memandangku sedih. Dia hanya mampu mengelus jilbabku seraya menghiburku "Sabar bunda... ngga usah sedih, biarkan Mirza belajar mandiri.."
Sepanjang perjalanan dari rumah sampai stasiun, aku hanya mampu menangis dan menangis. Kubayangkan Mirza di rumah yang sedang menangis mencariku. Dan aku bergetar hebat... pagi ini, kembali aku menangis lagi...
Seperti biasa, aku pulang dari kantor naik KRL Expres dari stasiun Tanah Abang tujuan Bogor. Tapi aku berhenti di Stasiun Depok Lama. KRL berangkat 17.20, telat 5 menit dari jadwal seharusnya. Yah, biasalah jam karet.
Seharusnya KRL hanya berhenti di Depok Lama, Bojong Gede dan Bogor. Tapi ketika sampai di stasiun Cawang tiba-tiba KRL berhenti, dan pintu terbuka pula. Sepertinya sengaja untuk nyari penumpang. Tiba-tiba masuk seorang bapak tua, berpakaian lusuh sambil membawa sebuah karung goni (karung beras) . Kontan banyak mata melirik ke bapak ini termasuk mataku. Penampilannya yang kontras dengan penumpang lain yang berpakaian rapi itulah yang membuat berpasang-pasang mata tak tahan untuk tak melihatnya. Mencolok sekali !
Hatiku langsung berdebar keras, keras sekali. Tak tega aku melihatnya, pasti bapak ini tidak punya tiket, sambil menunduk aku berdoa dalam hati "Semoga bapak tua ini tidak didenda atau tidak diturunkan ditengah jalan.." . Doaku aku ulang-ulang terus sambil terus memperhatikan ke depan apakah kondektur sudah berada di gerbong ini.
Dan ketika kondektur itu sudah semakin mendekati posisi si bapak tua, hatiku makin berdebar kencang. Aku tak kuasa melihat adegan apa yang bakal terjadi selanjutnya. Apakah si bapak tua akan dimarahi habis-habisan, akan dipermalukan atau akan digiring ke pintu masinis untuk segera diturunkan. Aku hanya mampu menunduk dan lagi-lagi berdoa. Pak Kondektur berhenti sebentar di depan si bapak tua, aku hanya mampu meliriknya sedikit. aku sudah bersiap akan membayar denda si bapak tua kalau ternyata dia didenda. Dan ternyata tak terjadi apa yang aku khawatirkan sebelumnya. Pak Kondektur berlalu begitu saja. Hatiku sedikit bersorak dan bersyukur.
Ya, aku tau, si bapak tua memang bersalah. Karena dia tidak memiliki tiket KRL express itu. Tapi masinis juga salah, karena membuka pintu KRL di tempat yang tak seharusnya dibuka. Lalu, salahkah aku kalau aku mendoakan si bapak tua ?? Salahkah mendoakan orang yang salah dikarenakan rasa belas kasihan kepadanya?
Lagi pengen curhat , abis sebel banget ama Bu Boss (General Manager) nya suamiku. Jadi bos kok ya keterlaluan banget sih. tadi suamiku ym aku :"Bun, aku ga bisa makan, ditongkrongin Bu Bos.." . lagi dan lagi?? entah sudah brp kali suamiku kirim message begitu selama ini. Belom lagi kalo malem, blom bisa pulang, dimarahi boss, ditunggui boss.. ealahhh.. (byk tmn2nya yg mengeluhkan ttg perlakuan bu bosnya yg pemarah dan semena-mena itu) Hey Bu Boss!!, jadi Boss mbok yg bijak, suamiku itu manusia, bukan ROBOT!! jadi perlu makan, perlu istirahat, perlu pulang tengbur juga kadang2x. Gak mikirin apa?? kalo suamiku juga punya keluarga yg butuh perhatian??? huuhh... aseli emosi banget aku. Dalam sebulan bisa dihitung dengan jari berapa kali suamiku bisa pulang tengbur, itu pun harus petak umpet sama Bu Boss. Selebihnya suamiku pulang larut malam bahkan pagi atau kdg ngga pulang. :( Suamiku pernah mau ngelepas jabatan strukturalnya biar waktu untuk keluarga bisa lbh banyak lagi, tp aku masih melarangnya, sayang juga sih, kan karirnya dia sbnre biasa bagus.Berharap aja smga cepet ada restrukturisasi dan bosnya di ganti. tp sbnere aku suka kasihan ma misua, ubannya makin banyak,wjhnya kalo sampe rumah udah loyo gitu, stress punya bos yang temperamental, bisanya cuma marah2 doang....hikss
Jika Anda sering chatting menggunakan Yahoo Messenger dengan teman-teman Anda. Pernahkah anda memperhatikan status yang ditulis teman-teman Anda di list contact Yahoo messenger? Kalau saya sering. Status-status yang ditulis teman-teman biasanya beraneka ragam. Ada yang sekedar menyatakan kalau dirinya sedang busy, not available, not at my desk. Ada yang berisikan kata-kata bijak, atau bahkan ada yang menuliskan kata-kata humor yang membuat tersenyum yang membaca.
Suatu hari, ada salah seorang teman saya yang ada di list contact Yahoo messenger saya memasang sebuah status yang berbunyi :“Bertahan demi cinta atau menapak masa depan karena logika?”. Kontan, status yang ditulisnya itu membuat beberapa teman penasaran. Sehingga banyak yang bertanya apakah gerangan yang sedang terjadi sehingga teman saya tadi memasang status seperti itu. Ternyata teman saya yang memasang status tadi, sebut saja namanya Ana sedang menghadapi sebuah permasalahan yang rumit. Ana sedang dihadapkan kepada sebuah pilihan, tentang siapa yang akan dijadikannya sebagai pasangan hidupnya.
Sudah 3 tahun lebih Ana menjalin hubungan dengan teman lelakinya. Kedua belah pihak keluarga sudah saling mengenal satu sama lain. Karena Ana sudah sering datang ke rumah cowoknya itu. Begitu pula sebaliknya. Mereka pun oleh teman-teman banyak dikatakan sebagai pasangan yang serasi. Selain sama-sama pintar, keduanya juga sama-sama memiliki penampilan yang menarik. Ana yang tinggi dan langsing, berkulit putih terang, memiliki wajah manis. Sedangkan Bagas, cowoknya, tinggi tegap dan ganteng, banyak menjadi idola cewek-cewek di kampusnya dulu. Hubungan yang terjalin antara Ana dan Bagas sudah dimulai sejak mereka sama-sama kuliah di sebuah Perguruan Tinggi yang sama. Sejak awal mereka berkomitmen untuk berteman dekat lebih dari sekedar teman biasa. Suka-duka sudah mereka lalui bersama-sama. Setelah mereka sama-sama lulus kuliah. Masing-masing bekerja, tapi tidak di tempat yang sama. Umur Ana yang sudah lewat dari 25 tahun, membuat keluarganya yang orang jawa was-was dan mendesak Ana untuk segera menikah (bagi orang jawa wanita berumur 25 tahun dan belum menikah biasanya dijuluki perawan tuo). Sementara Bagas sampai saat ini masih belum memberikan kepastian kapan mereka akan menikah. Tidak ada target sama sekali. Ana kecewa dengan sikap Bagas yang begitu. Rasanya 3 tahun yang telah mereka lalui itu menjadi waktu yang sia-sia baginya jika tak ada kepastian apakah Bagas mau menikahinya atau tidak.
Di lain pihak, ada laki-laki lain, yang tak kalah kerennya dengan Bagas, yang ingin menjalin hubungan serius dengan Ana. Berbeda dengan Bagas, laki-laki ini sebut saja namanya Andre, langsung mau berkomitmen untuk segera menikahi Ana as soon as possible, kapanpun Ana inginkan. Andre bukan ingin mencari pacar, tapi ingin mencari Istri. Inilah yang kemudian membuat Ana ragu untuk menentukan. Jika ia tetap menjalani hubungan dengan Bagas yang tak tahu kapan akan menikahinya, maka umurnya akan makin bertambah, sementara ia dan keluarganya ingin agar ia segera menikah. Lalu, jika dia meninggalkan Bagas dan memilih Andre, memang ia bisa langsung menikah, tapi ia jadi merasa 3 tahun ini menjadi waktu yang sia-sia. Meski sebenarnya Ana masih mencintai Bagas akan tetapi ia juga tak mau kalau hubungannya itu tidak ada kejelasan, tidak ada komitmen untuk segera menikah.
|
Ana0808 : |
“Jadi gimana menurut mbak ?” |
|
Sya4215 : |
“Sholat Istikharoh aja An..” |
|
Ana0808: |
“Iya kalo itu pasti, tapi kalo mbak jadi aku milih yang mana?” |
|
Sya4215 : |
“Hmm aku mo nanya dulu, Agamanya kuat yang mana?” |
|
Ana0808: |
Sama mbak, sebanding”
Sudah aku banding2kan, semuanya sama, cuma satu kekurangan Andre,dia lebih pendek dari Bagas..(maaf ya ini kalo bicara fisik)” |
|
Sya4215: |
“Kalau gitu, kalo aku jadi kamu, aku akan memilih yang punya keberanian untuk segera menikahimu. Itu berarti Andre”
|
|
Ana0808:
|
“Tanya Kenapa?” |
|
Sya4215: |
“Karena itulah keputusan yang pernah kuambil dulu ketika aku pernah dihadapkan pada masalah yang hampir sama dengan masalahmu. Dan aku merasa itulah keputusanku yang paling tepat hingga saat ini” | Kalo MPers jadi Ana, milih yang mana dong?
Kemaren pengennya sih ikutan acaranya CAB di ponpes Nurul Huda sampe selesai, soalnya daku banyak yang belom kenal dengan para member CAB lainnya. Ada beberapa wajah yang familiar, seperti : bang Jonru, Akmal, Fetry, Rama, Bunda Wirda tentunya, trus siapa lagi yah, wah yg lain blom pada kenal nih...
Sayang, aku harus segera cabut dari sana karena ternyata Mirzaku rewel, aku pikir cuma ngantuk biasa karena jam 12 waktu tidur siangnya. Biasanya dia suka kalau ada acara rame-rame seperti kemaren. tapi hari itu sepertinya dia belom bisa beradaptasi dengan lingkungan baru disana. Maaf ya Bunda..saya harus pulang duluan... hiks.. padahal pengen kenalan ma semua member CAB disana loh... mungkin lain kali yah..
Sesampainya di mobil, Mirza langsung ceria lagi, heran deh, tadinya rewel pas di Nurul Huda kok pas di mobil ceria lagi sih, sesampai di rumah rewelnya kambuh lagi. Berungkali dia bilang : Sakit..sakit gitu, kupikir karena gigitan ulat atau apa yang membuat bagian bawah matanya memerah ketika di Nurul Huda itu, ternayata setelah kubuka bajunya, bagian punggungnya banyak merah-merahnya juga, sepertinya menyebar kali yah... duh kasian juga, mungkin dia ngerasa gatel or perih. Merah-merahnya kok lama kelamaan menyebar di hampir seluruh badannya, tangan dan kaki. Duh gak tau deh, aku cuma ngobatinnya pake Calycil aja. Sampe malem jam setengah 11 Mirza masih mengeluh sakit. Walhasil aku ngga bisa tidur deh. Ada apa dengan Mirzaku ya ? hikss.... ditunggu kalau hari ini gak sembuh, baru mau kubawa ke dokter deh.
Doain supaya lekas sembuh ya...
Si 2 tahunku sudah seminggu ini ngga mau makan sama sekali, membuat panik dan bingung orangtua dan pengasuhnya (eh yang panik cuma bundanya ding, yang lain mah enggak..). Menu sudah di ganti-ganti, mulai dari yang bubur lembek sampai yang nasi biasa, lauk mulai dari sop daging sampai bihun kesukaannya. Tapi semuanya di tolak mentah-mentah. Dan kemaren baru ketahuan kalau ternyata Mirza kena sariawan, di gusi kirinya. Duh pantesannn... Obat Sariawan untuk anak 2 tahun apa sih yang bagus?
 Memiliki suami yang Gila kerja, bagiku, kadang-kadang bikin agak jengkel juga, perasaaan.. anak istri jadi kurang perhatian, tapi ini mungkin perasaanku yang lagi sensitif aja ya? atau aku yang kurang pengertian... duh maafkan daku... Semestinya, diriku tidak boleh memandang hal ini dari satu sudut pandang saja, bukankah dulu aku sudah setuju ketika suamiku dipromosikan, konsekuensinya ya bakal seperti ini ? Dari sudut pandang lain, banyak manfaat yang diterima dari sifatnya yang SANGAT giat bekerja, prestasinya jadi bagus dan tak bisa dipungkiri kalo itu membawa rejeki lebih untuk keluarga .. (jadi anugrah kan?, Alhamdulilah..)Ya..semua itu bisa kuterima kok, sesibuk-sibuknya suamiku bekerja, kan semua itu untuk keluarga jugaa... [Terimakasih ya Yah..] Aku mendukungmu kok suamiku, cuma kadang-kadang, ada satu keinginan yang 'menggelitiki hatiku', andaikan suamiku punya waktu sedikit luang, trus bisa 'Ngempi' bareng-bareng denganku, rasanya gimana yah...? (ah...sebuah keinginan yang mustahil terpenuhi, karena tak ada sedetik pun waktu kantormu yang digunakan untuk hal-hal diluar kerjaan, tidak sepertiku yang masih bisa curi-curi waktu kantor untuk ngempi...) 
Kemarin petang, aku baru selesai sholat magrib ketika HPku berdering, segera kuangkat , ternyata itu dari suamiku, ada apa gerangan, batinku berkata.
”Bundaaa... , saat ini aku sedang terjebak di lift , di lantai delapan... tolong Bunda, aku sendirian nih...” suara diseberang terdengar agak panik. (Suamiku berkantor di gedung Menara Thamrin lt 12.)
”Aduhh Yahhh... gimana dong, ada apa ini...?” tiba-tiba suaraku terdengar seperti orang mau nangis.
”Tadi dari lantai 12, lift turun nge-drop gitu, sesampai di lantai 8, semua panel ngga berfungsi... layar display pun gak berfungsi, lift macet, takutnya tiba-tiba nge-drop lagi, aku sendirian di sini...”
”Haduh Yah...gimana dong? Aku kuatir nih... duh gimana yaa... , banyak-banyak doa aja ya Yah...”
”Tenang Bunda..., aku tadi udah telp keamanan gedung, nanti kalo aku sudah ditolong aku kabari lagi oke... Bunda berdoa juga ya...”
Aku tetap saja panik, bingung musti berbuat apa, akhirnya ku telpon temen-temen kantor suamiku yang masih berada di kantor...
”Halo...halo Mas...ini Istrinya Pak Azis.. toloong dong mas... suamiku terjebak dalam lift di lantai 8, tolong liatin dong... saya kuatir ni...”
”Ohh iya mbak, Azis ya? di lantai 8 ya, tenang aja... saya segera lapor keamanan, dan segera saya meluncur kesana...mbak tenang aja ya...”
Perasaanku agak sedikit tenang kemudian, tapi detik demi detik berlalu dan kemudian menit demi menit berlalu, suamiku tak jua kunjung menelponku, perasaanku sudah campur aduk, kilasan bayangan akan hal-hal buruk berseliweran di pikiranku, sekuat tenaga aku menghapusnya dengan lantunan doa-doa yang tak henti kuucapkan...
”Ya Allah...selamatkan suamiku...”
Menit demi menit berlalu, tapi bagiku waktu serasa berhenti dan enggan tuk beranjak pergi, aku merana dalam sebuah penantian., penantian sebuah kabar baik dari belahan jiwaku.
Dalam bilangan beberapa puluh menit kemudian, akhirnya ... penantian ku pun berakhir dengan sebuah dering telpon yang sudah kunanti.
”Haloo..Bunda, Ayah udah berhasil di selamatin tim penolong, sekarang sedang di evakuasi ke lt 8 ..., tapi Ayah masih trauma.. nanti mau turun pakai tangga manual saja...”
Alhamdulilaah.... plongggg hati ini mendengarnya, Ya Allah, Engkau masih berkenan menyelamatkan suamiku... segala syukur untuk Mu Alloh....
”Iya deh Yah... kalo masih trauma, turun pake tangga biasa aja, sambil olahraga..ya..”
Sesampai dirumah, dengan wajah yang masih pucat dan agak tegang, serta kaki yang kadang masih gemetaran, suamiku bercerita tentang tragedi yang menimpanya, juga tentang proses evakuasinya yang cukup mengerikan. Bagaimana ngga mengerikan? Saat proses evakuasi, tiba-tiba lift naik drastis, dari lantai 12 ke lantai 16 , dan kemudian secara tiba-tiba pula turun nge-drop ke lantai 9 , untungnya di lantai 9 ini rem bisa berfungsi dan kemudian harus digerek manual ke lt 8 lagi untuk evakuasi. Dan itu dia hadapi seorang diri. Di dalam lift dia sudah menjerit-jerit ketakutan, ”Seperti adegan di film ..” kata Suamiku.
Tapi syukurnya masih ada tim penolong yang mau membantu, namun, disaat-saat membahayakan seperti itupun, masih saja ada orang yang tidak peduli dan tidak mau ikut menolong ketika diminta. Dia adalah satpam kantor PBB , karena pintu lift hanya bisa dibuka separo, maka saat itu diperlukan pengganjal, karena kantor yg ada di lantai 8 adalah kantor PBB, maka tim penolong meminta tolong ke satpam kantor PBB untuk meminjam meja untuk mengganjalnya, tapi satpam kantor PBB itu tidak mau meminjamkannya... duh segitu amat sih pelitnya... ini masalah nyawa sesorang Bung !....
Saya ucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya untuk para penolong, yaitu engineer lift di gedung Menara Thamrin, Satpam, Pengelola Gedung dan pihak-pihak lain yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu, semoga kebaikan Bapak-bapak mendapat balasan setimpal dariNya. Amin.
Dan kepada suamiku aku berkata, jadikan tragedi ini sebagai sebuah peringatan dariNya, bahwa Dia adalah Maha Kuasa, jika Dia sudah berkehendak , maka apapun bisa terjadi, dan jadikan moment ini sebagai peringatan agar dirimu instrospeksi, lebih baik menjalani hidupmu, mengisi hidupmu dengan lebih banyak beribadah.
Dan akhirnya, semalam, kita bertiga , aku, suamiku, dan Mirza anakku (yang belum tahu apa-apa akan kejadian ini) berpelukan, seperti orang yang lama tak bertemu... , ada rasa haru, syukur, gembira yang menyeruak di hati kami... Alhamdulilah...
Kubisikkan lirih ditelinga suamku ”Yah... aku ngga siap jadi Janda...”
Di kantor, aku punya kelompok pengajian yang dibimbing oleh seorang Murabiyah bernama Mbak Diah (sebenernya beliau ini masih muda, umurnya sekitar 23 an sudah jadi hafidzah sejak SMP). Sudah bukan hal aneh lagi bagi kelompokku itu jika saling bertanya tentang progres amalan-amalan Ramadhan setiap kali bertemu, seolah-olah saling bersaing satu sama lain, berlomba-lomba melakukan amal ibadah di bulan Ramadhan. Bersama Mbak Diah, kami merumuskan bersama target apa saja yang harus kami capai selama ramadhan ini dan apa konsekuensinya jika kita tidak bisa memenuhi target tersebut, kami sepakat jika ada salah satu anggota yang tidak memenuhi target maka kami dikenakan denda sebesar Rp 25.000,- untuk satu jenis 'pelanggaran' target, ini semua dalam rangka fastabihul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) kata Mbak Diah. Adapun target kami untuk Ramadhan kali ini adalah : 1. Tarawih tidak boleh ada yang lewat. 2. Qiyamul Lail minimal 5 kali dalam seminggu. 3. Minimal 2 kali khatam Al-quran 4. Sholat dhuha minimal 5 kali dalam seminggu. 5. Juz 30 sudah hafal semua.
Alhamdulilah sih sampe saat ini aku belom kena denda .. meski kemaren uzur 4 hari, biasalah kedatangan bulan... entah kenapa rasanya bulan Ramadhan ini memberikan kekuatan yang luar biasa buatku, di bulan-bulan lain, jangankan satu hari bisa 1 juzz, bisa baca 2-3 lembar aja rasanya sudah lumayan, tapi di bulan penuh berkah ini, sehari 3 juzz itu rasanya tidak terlalu berat dijalani.Alhamdulilah.. Semoga bisa istiqomah sampe nanti.. amin..amin.. Maaf, saya menulis ini bukan untuk ujub,pamer,riya,sombong, dll.. semoga Allah melindungiku dari hal-hal demikian itu... Harapanku,semoga kita bisa ber-fastabikul khairat... yuuukk...
Aku mengenal dia beberapa tahun yang lalu, di salah satu tempat kost di pingiran Bandung, di lingkungan sebuah kampus sekolah telekomunikasi yang MEWAH [Mepet Sawah]. Kala itu, aku sedangan menyelesaikan sarjana, dan dia sedang menyelesaikan diplomanya, kebetulan kami mengambil bidang studi yang sama, Teknik Informatika. Dan ternyata kita berasal dari kota yang sama pula. Persahabatan yang terjalin lama kelamaan berkembang, berlanjut menjadi sebuah persaudaraan, sampai akhirnya kita berdua mengikrarkan diri untuk menjadi saudara, aku kakaknya dan dia adikku. Berhadapan dengannya, seringkali membuatku kehabisan kata-kata, bersama dengannya, membuatku merasa sangat kecil. Apa yang saya alami dalam hidup ini, adalah hal remeh temeh yang tidak ada artinya jika dibandingkan dengan yang dia alami. Tak heran jika meski usianya 3 tahun dibawahku, namun kedewasaannya dalam menjalani hidup ini mungkin 3 tahun diatasku. Penderitaannya yang akhir-akhir ini terasa seperti takputus-putus, kena phk dari perusahaaanya, kemudian disaat yang sama Ayahnya yang menjadi andalan pencari nafkah dalam keluarganya dipanggil oleh Sang Pencipta, otomatis dalam usia yang relatif masih muda, 25 tahun, dia sudah harus menggantikan bapakknya sebagai kepala rumah tangga yang harus menghidupi ke-empat orang adikknya. Namun semua itu dia jalani dengan hati yang lapang dan senyum terkembang. Subhanallah... Dan di hari ini, tepatnya jam 4 sore nanti, dia harus berjuang, menghadapi dosen-dosen penguji sidang tugas akhirnya di salah satu perguruang tinggi swasta di jakarta, dia mengambil program sarjana bidang teknik informatika. Masih kuingat kemaren malam, sepulang dia dari tempat kerjanya , yang katanya saat itu kerjaannya sedang overload dan lagi dia yang sedang sakit, dia rela jauh-jauh datang ke rumahku di Depok sana. Sambil bergulat melawan sakitnya yang sedang mendera, menikmati kemacetan lalu lintas yang menggila sepanjang jakarta-depok senja itu, ditambah rasa capeknya setelah seharian menangani pekerjaannya yang overload, dia datang ke rumahku untuk 'berkonsultasi' tentang tugas akhirnya. Malam itu, berdua kami habiskan malam untuk mengobrak-abrik source code aplikasi tugas akhirnya, dan 'menangkap' kutu-kutunya serta memberantasnya. Semoga bisa membuatnya lebih percaya diri menghadapi presentasi aplikasinya nanti... God Luck Sis... Semoga Allah selalu menjagamu...!!
Udah pada ke BBM (borong buku murah) nya GPU blom ?
Itu lho... cuci gudangnya gramedia yang di BBJ - Bentala Budaya Jakarta
Jl. Palmerah Selatan 22, Jakarta (depan Gd Kompas Gramedia)
Berlangsung dari tanggal 26 Sept- 28 Sept 2006
Kemaren Daku kesana jam 11.30, wuahhh padet banget deh,
pas sampe sana karena saking penuhnya, kita blom dibolehin masuk, ada pak satpam yg mencegat dan menutup pintu masuk. bejubelnyaaa.... nggilani banget deh...
selama kurang lebih 15 menit daku ngantri di pintu masuk, padahal itu area kan terbuka, dan puanasnya minta ampun , dari pintu luar cuma bisa ngeliat orang2 yang lagi pada kalut belanja buku, ada sekumpulan buku2 komputer yang baru dikeluarin langsung diserbu dalam 2 menit habis ludesss... pas aku masuk udah ngga kebagian deh..hiksss
disana banyaknya komik, penggemar komik bersuka ria deh...
beli 5 cuma 10.000,-
setelah puter2 sana-sini dan hampir mau pingsan saking panas dan sumpeknya [hiperbolik banget nih ....hehehe] akhirnya daku cuma dapet buku2 cerita "english fun" buat anakku, dan buku2 cerita lain , dapet 25 buku, jadi abis 50.000,-
Novel2 juga banyak, yg tadi kuliat barbara kartland, trus nora robert, dkk lah...
kalo kalo nyari buku2 yg agak serius spt komputer, wirausaha, akuntasi, dll musti berebutan deh..
Ada ibu2 yang saking asyik belanja dan saking padet tempatnya, sampe kehilangan anaknya....gile..gile..sapa sih nyang gak mau yang murah..murah, panas dahaga jadi lupa semuaa...tapi disuruh kesana lagi daku ogahh ahhh...
Ada sepasang suami istri yang sedang bertengkar, karena pertengkarannya itulah kemudian mereka tidak saling tegur sapa, istri mendiamkan suaminya dan begitu pula sebaliknya. Karena keesokan harinya sang Suami mendapat tugas ke luar kota dan harus berangkat pagi-pagi, maka sang suami menuliskan pesan di selembar kertas yang ditujukan ke istrinya, bunyinya : “ Bu, tolong bangunkan aku besok pagi jam 4 pagi, aku harus berangkat ke luar kota jam 5 “. Dan ketika pagi datang sang suami kaget, dia lirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 6 pagi, rupanya istrinya tidak membangunkannya, batinnya, dan kemudian dia liat secarik kertas di atas bantal, rupanya itu dari istrinya, tulisan itu berbunyi : “ Pak ....bangun pak, sudah jam 4 ..!”
******
Komunikasi.... , yah komunikasi adalah hal penting dalam kehidupan berumah tangga, bukan hanya sebuah keperluan tapi telah menjadi suatu kebutuhan. Seorang istri butuh berkomunikasi dengan suaminya, begitu pula sebaliknya, komunikasi yang seperti apakah ? yaitu komunikasi yang hangat, akrab dan mesra .
Seorang teman dekatku penah curhat kepadaku, dia mengatakan hidupnya serasa tak berguna, suaminya tidak pernah mau mendengarkan dia dengan alasan capek atau sibuk bekerja, dia jadi merasa tidak dibutuhkan, serasa hanya dibutuhkan saat hubungan intim saja, selebihnya tidak. Akibatnya dia lebih suka menelpon teman lelakinya untuk curhat-curhatan atau sekedar sharing masalahnya. Bukan kepada suaminya.
Mau mendengarkan masalah pasangan, mau diajak sharing oleh pasangan... Sepertinya ini Little Things... But Actually it means a lot...
Masalah teman dekatku tadi, menurutku bisa menjadi sebuah “Bom Waktu” yang bisa saja suatu saat meledak hebat, bahkan bisa menghancurkan keutuhan rumah tangga. Masih ingat kan kasus seorang ibu di Bandung yang tega membunuh 3 orang anaknya? Naudzubillah.... Jangan sampai masalah “Little Things “ ini menjadikan hal-hal buruk seperti itu. Jadi untuk para suami, luangkanlah waktu sejenak untuk mendengar keluh kesah istrimu, untuk sekedar sharing tentang sesuatu, luangkanlah waktumu .....
| |