Pagi
itu aku berangkat pagi-pagi sekali. Sarapan dan bekal makan yang telah dibungkus
oleh istriku lupa kubawa serta. Jam setengah sepuluh ada janji
meeting dengan
vendorku, aku
tak mau telat di pertemuan penting itu. Jam
delapan kurang aku sudah sampai di kantor, beruntung KRL pagi ini bisa datang
tepat waktu sehingga aku tidak terlambat sampai di kantor.
Sesampai
di kantor seperti biasa aku melakukan “ritual” pagi hariku. Aku langsung menuju
ke toilet untuk bersih-bersih muka
dan merapikan rambutku dengan minyak rambut. Kenapa aku tidak melakukan ini di
rumah? Karena selain tidak sempat karena terburu-buru juga karena alasan aneh bin lucu yaitu kebiasaan istriku yang
tidak menyukai aroma minyak rambutku sehingga terpaksa aku memakainya ketika di
kantor saja. Pernah kami hampir bertengkar hanya karena masalah sepele ini. ”Masak ngga mau lihat suaminya tampil rapi
sih?” protesku pada istriku kala itu. “Ya bukan begitu, tapi itu lho aku ngga
suka aroma minyak rambutmu itu..” jawab istriku ngotot. “Lha trus pakai apa dong
, apa pakai minyak kelapa ?” balasku tak mau kalah ngototnya . “Minyak telon !”
jawab istriku bersungut-sungut tambah jengkel. Istri yang aneh, batinku. Akhirnya aku
mengalah, hanya memakai minyak rambut itu saat di kantor saja.
Selesai
merapikan tampilan, rasa percaya diriku agak bertambah. Aku siap menghadiri meeting dengan para vendorku. Kebetulan meeting ini aku yang mengundang mereka
untuk membahas tentang salah satu project yang sedang kami kerjakan.
Setelah beberapa saat meeting dimulai
tiba-tiba HIVku kambuh. Bahaya dong
kalau penyakit yang satu ini tidak segera ditanggulangi. Meski tidak sampai
menyebabkan kematian, Karena HIV yang
kumaksud di sini bukan HIV AIDS
melainkan HIV = hasrat ingin vivis. .Aku paling tidak suka menahan-nahan
buang air kecil.
Aku
minta maaf kepada peserta meeting untuk meminta waktu keluar
sebentar. Aku segera meluncur ke toilet untuk menyalurkan hasrat ingin pipisku tadi. Lega
rasanya ketika sudah tersalurkan.
Ketika
aku hendak menarik resleting celanaku ke atas, tiba-tiba resleting itu
menyangkut di kain celana. Kucoba menurunkannya kembali perlahan-lahan tapi
seret. Ada sedikit rasa panic
menggerayangiku, tapi kucoba untuk tetap kalem. Perlahan kucoba lagi menarik
resleting itu ke bawah. Lagi-lagi resleting itu tak mau bergerak. Setelah beberapa menit aku berusaha menarik
resleting itu ada temanku yang masuk ke toilet. “Woi.. ngapain boss lama amat di
toilet.” . “Jangan mikir yang ngga-ngga dong, ini lho resletingku macet..”
Jawabku sedikit kawatir.
Hampir
sepuluh menit lamanya aku mencoba resleting itu tapi tetap saja tak mau
bergerak. Akhirnya aku menyerah. Kukeluarkan kemejaku sehingga menutup bagian
resleting celanaku. Aku berjalan pelan-pelan keluar toilet sambil memegang
kemejaku agar tidak tetap menutup bagian resleting itu. Kuceritakan kejadian itu
kepada teman-temanku di kantor. Mereka malah menertawakanku. “Gue lagi meeting nih.. gimana dong|?” aku
mencoba meminta solusi pada teman-temanku. “Udah sini gue pinjemin celana gue
dulu nih..” jawab salah seorang temanku. “Enak aja, celana loe
kan kecil, mana muat buat gue…”.
Tak
ada solusi dari teman-temanku. Akhirnya aku berinisiatif sendiri untuk pergi ke
Sarinah, kebetulan kantorku dekat dengan pusat perbelanjaan itu. Siapa tahu sudah buka toko pakaiannya. Akhirnya aku
pergi ke sana berniat membeli celana
panjang baru untuk menggantikan yang kupakai sekarang itu. Untung ternyata counter baju executive 99 sudah buka.
Tanpa ba bi bu lagi aku langsung memilih salah satu celana dan membelinya. Aku
langsung memakainya saat itu juga, dan kembali ke kantor dalam waktu kurang
lebih sepuluh menit . Aku kembali ke ruang rapat.
Setiba
di ruang rapat, sudah banyak yang
menungguku. “Maaf bapak-bapak ibu-ibu,
saya sedang ada urusan urgent
tadi..mari kita lanjutkan rapat ini kembali..”
dengan rasa percaya diri kembali aku memimpin rapat itu. Lega rasanya aku
terbebas dari kejadian tak mengenakkan itu. Namun ketika rapat berjalan
setengah, aku merasakan sesuatu yang tidak enak dengan celanaku. Bagian paha terasa sangat sempit dan ketat.
Hal itu membuatku agak kurang nyaman. Beberapa peserta rapat seperti melihat
kegelisahanku, segera kulempar senyum ke mereka untuk memberitahu bahwa aku
baik-baik saja. Dan rapat pun usai. Aku segera kembali ke toilet lagi untuk
melihat ketidak beresan celanaku ini. “O la la…” jeritku geli ketika melihat
model celana yang kupakai ini. Ternyata aku salah pilih. Celana yang kubeli ini
adalah model celana pipa yang sepertinya biasa dipakai oleh wanita.
Sesampai
di rumah istriku hanya cengar-cengir mendengar cerita ku . Aku yang sial, dia
yang untung. Karena celana panjang itu sekarang menjadi miliknya.
“Sering..sering keliru beli celana ya yah, biar aku sering dapet celana mahal begini” katanya
meledekku. Gemes aku, kucubit dia
habis-habisan meluapkan kejengkelanku hari itu.
* Cerita ini dibuat berdasarkan pengalaman yang dialami
sendiri oleh suamiku.