Rona
kebahagiaan terang memancar dari wajah kedua orangtuaku pada hari itu. Hari
ketika kedua orangtuaku yang berprofesi sebagai guru SD akan menerima balasan atas jasa mereka
mendidik dan mengajar anak-anak didiknya. Ya, mereka akan menerima gaji bulanan.
Gaji
bulanan mereka akan diterima langsung dalam bentuk uang tunai. Bukan ditransfer
melalui nomer rekening bank. Untuk itu mereka diharuskan datang langsung ke
kantor mereka yang berada di kota
kecamatan Mungkid. Letaknya kurang lebih sepuluh kilometer dari kabupaten
Magelang. Jarak antara rumah kedua orangtuaku dengan kecamatan Mungkid kurang
lebih sekitar enam kilometer. Jarak sejauh itu biasanya mereka tempuh dengan
mengendarai sepeda motor vespa milik bapak.
“Nanti
bapak dan ibu pulang agak sore ya anak-anak, karena kami harus ke kecamatan dulu
mengambil gaji” begitu pesan ibu sebelum
anak-anaknya berangkat sekolah. “Jangan lupa oleh-olehnya ya bu..” jawab kami
serempak. Saat itu aku dan adikku masih dibangku SD sementara kakakku sudah SMP.
Seperti halnya orangtuaku yang menganggap tanggal 3 adalah tanggal istimewa,
kamipun begitu. Karena setiap bapak dan ibu pulang dari mengambil gaji, kami
selalu mendapat jatah oleh-oleh makanan jajanan pasar kesukaan kami. Sate telur
puyuh, klepon , thiwul dan getuk, itulah jajanan kesukaan kami.
Setelah
gaji berada di tangan kedua orangtuaku, mereka pun pergi ke pasar kecamatan.
Sabun, gula, terigu dan kebutuhan-kebutuhan pokok bulanan lain segera mereka
dapatkan. Tak lupa jajan pasar untuk oleh anak-anaknya, ada sate telur puyuh,
getuk, thiwul dan makanan-makanan kampung lainnya. Karena hari sudah mulai sore,
dengan berboncengan vespa ibu dan bapak segera
beranjak pulang.
Suasana jalan menuju pasar kecamatan itu begitu ramai, mungkin banyak
orang yang baru saja menerima gaji langsung berbelanja di pasar seperti halnya
ibu bapakku. Sepeda motor dan mobil lalu-lalang berdesak-desakan. Yang berjalan
kaki pun tak mau kalah ramainya. Hiruk pikuk memekakkan telinga, menambah suasa
kian sumpek tak terkira.
Tiba-tiba
sebuah sepeda motor dari belakang menyenggol pelan vespa bapak, meski pelan
senggolannya dan tidak menimbulkan suara, namun ternyata senggolan itu membuat
ibu terjatuh dari boncengan motor vespa bapak. Ibu jatuh terduduk di jalan raya
sambil memegangi belanjaannya. Karena masih kaget dengan kejadian itu ibu tidak
bisa bangkit serta-merta. Butuh beberapa saat untuk mengembalikan kesadarannya.
Alangkah kagetnya ibu, ketika menyadari ternyata motor vespa bapak tidak berada
di dekat situ.
Parahnya,
ternyata bapak sama sekali tidak menyadari kalau ibu terjatuh, bapak dengan
sepeda motor vespanya melaju begitu saja seolah tak terjadi apa-apa. Ajaib
memang, tapi begitulah yang terjadi saat itu. Beberapa orang yang melihat
kejadian itu berteriak memanggil bapak “Pak…Pak , Itu lho istrinya jatuh” ,
namun bapak sudah berada jauh dari tempat kejadian, beliau tak mendengar
panggilan itu. Suara lalu-lalang kendaraan dan bisingnya pasar telah mengaburkan teriakan-teriakan itu
sehingga bapak sama sekali tak mendengarnya.
Ibu ditolong oleh beberapa orang di sekitarnya.
Sambil merapikan belanjaan yang berserakan, ibu hanya meringis sembari
tersenyum-senyum sendiri melihat sang suami melaju dengan cueknya. Orang-orang
yang menolongnya ikut-ikutan senyum-senyum menyaksikan kejadian itu. “Sudahlah
bu, naik angkot saja, bapak udah jauh tuh, ngga mungkin bisa mendengar teriakan
kita, ibu tidak apa-apa kan?” kata
salah seorang diantara mereka. “Alhamdulilah, saya tidak apa-apa kok, cuma agak
kaget saja tadi” jawab Ibu.
Sementara
itu bapak yang sama sekali tak mengetahui kejadian itu, masih saja asyik
bercerita. Meski cerita hanya berjalan satu arah dan tak ada tanggapan dari
pihak lawan bicara, tapi bapak acuh saja. Mungkin ibu sedang tak punya kata
untuk menanggapinya, begitu pikirnya. Beberapa orang yang melihatnya lewat sempat melemparkan pandangan aneh keheranan,
tapi bapak tetap tak memedulikannya. Dia hanya membatin, apakah suaraku terlalu keras sehingga
dilihat aneh oleh orang-orang di jalan itu? Ah kalau aku tidak keras bersuara
nanti Ibu tidak dapat mendengarnya. Lantas beliau acuh saja dan terus
melanjutkan ceritanya lagi.
Kurang
lebih satu kilometer sebelum sampai rumah, rupanya bapak semakin penasaran
kenapa begitu banyak orang yang melihatnya di jalan dan menatapanya dengan
tatapan aneh. Beliau tak kuasa untuk menanyakan pendapat istrinya akan hal itu,
dan beliau berujar :”Bu, kok orang-orang itu melihat kita dengan tatapan aneh
ya?, apa suaraku terlalu keras to?”.
Suasana hening, diam, tak ada jawaban. Dan beliaupun bertanya lagi dengan suara
yang makin dikeraskan “Bu, Ibu.. suaraku keras ngga sih? Itu lho kok banyak yang
melihat dengan tatapan aneh …” Diam tak ada jawaban lagi. Lantas buru-buru bapak menoleh ke belakang.
Kaget
bukan kepalang, itu yang dirasakan bapak ketika melihat di boncengan belakang
tak ditemukan ibu disana. Meski kaget dan heran beliau tetap melajukan motor
vespanya. Sesampai di rumah beliau baru menceritakan keheranannya kepada kami
anak-anaknya.”Oalah. pantas saja orang-orang itu melihat aneh ke bapak, lha
bapak dari tadi ngomong dan teriak-teriak sendiri kok.. mungkin mereka mengira
bapak orang yang kurang waras ya..” kata bapak setelah menyadari kejadiannya. Kami
tertawa mendengar perkataan bapak itu sekaligus merasa khawatir akan nasib ibu,
karena kami masih belum tahu kenapa tiba-tiba ibu menghilang dari boncengan
bapak.
Kurang
lebih sepuluh menit kemudian, sebuah angkot berhenti di depan rumah. Kebetulan
rumah kami berada tepat di pinggir jalan raya. Dari kejauhan tampak ibu turun
dari angkot. Sambil menenteng belanjaannya, ibu tersenyum lebar kepada kami. Aku
dan adikku berhamburan lari keluar menyambut ibu. Bapak segera menyusulnya.
“Bapak ini gimana sih, tadi ibu jatuh dari boncengan kok ngga tahu?” kata Ibu
langsung menembak bapak. “Aduh maaf bu, bapak bener-bener ngga tahu kalau ibu
jatuh, lha wong sepanjang perjalanan
aja bapak masih ngobrol panjang lebar kok, kupikir ada ibu di boncengan,
ternyata bapak ngomong sendirian “ Bapak
menjelaskan keadaan. Bapak sudah takut akan dimarahi oleh ibu. Ternyata ibu malah tertawa mendengar
penjelasan bapak tadi. Dan meledaklah tawa meriah di rumah kami saat itu.