Matahari telah
bersembunyi kembali di balik peraduan. Petang menjelang, perlahan bergerak
menyelimuti awan. Di dalam sebuah angkot jurusan Depok-Citayam, aku duduk di
pojok belakang. Tepat di depanku duduk seorang ibu beserta anak laki-lakinya
yang kuperkirakan umurnya sekitar 3 tahun. Bersama mereka turut pula rombongan
ibu-ibu lain (4 atau 5 orang) yang masing-masing membawa anak-anaknya yang
rata-rata masih berusia BALITA. Sepertinya mereka baru saja menghabiskan waktu dengan
berbelanja di pusat perbelanjaan terkemuka di Depok.
Anak-anak
yang lucu-lucu dan lincah itu menarik perhatianku. Rasa capek dan letihku
sehabis bekerja seharian di kantor serasa luruh perlahan-lahan. Anak laki-laki
yang duduk di depanku itu lucu sekali. Wajahnya juga putih bersih. Kuperkirakan
dia anak orang berada. Dari tampilannya yang putih bersih seringkali aku
menemukan seorang itu berasal dari keluarga berada. Kebetulan ibunya pun berpenampilan cantik dan
modis, sehingga tak berlebihan jika aku beranggapan demikian. Anak laki-laki
itu, (entah siapa namanya ) mengingatkanku akan anakku yang saat itu sedang
dirumah menunggu kepulanganku.
Si
Anak lelaki itu banyak berceloteh, ia menanyakan apa saja yang ada di
sekitarnya. “Ma, itu apa ma?” tanyanya sambil menujuk ke lampu lalu lintas. Si Ibu yang dipanggilnya
mama hanya terdiam sambil sibuk menghitung-hitung isi kantong belanjaanya.
“Mama..itu apa? “ Tanya si anak lelaki itu lagi. Kali ini si ibu menjawab
dengan gertakan “Diam..!” . Aku kaget. Dan anak itu pun terdiam sambil menunduk
sedih.kasihan sekalii, batinku. Tahukah
kau wahai ibu? Bahwa jika anak kita bertanya dan kita sebagai orangtua tidak
memberikan jawaban atas pertanyaannya, maka akan terputuslah beberapa koneksi
yang ada di dalam sel otak anak itu.
Aku sibuk
menyesalkan sikap sang ibu itu terhadap anaknya. Tiba-tiba sang anak bertanya
lagi ke ibunya “Ma, itu ada balon gede..” sambil menunjukk ke arah balon-balon
besar yang digantung diatas atap-atap
pusat perbelanjaan. Si Anak loncat-loncat kegirangan melihatnya Dan Tiba-tiba
sang Ibu marah besar sambil memukul pantat anaknya “Diam Bang, kok gak bisa
diam sih..” . Kontan si anak menangis, kaget dan mungkin juga sakit karena
pukulannya. Aku miris, sedih, sambil mengurut dada. Tahukah kau wahai ibu? Apa
yang baru saja kau lakukan kepada anakmu itu telah menghambat tumbuh kembang
sel otak anak itu. Atau bahkan jika hal seperti itu terlalu sering dilakukan
kepadanya, mungkin sel otak anak anda akan layu, sama sekali tidak berkembang.
Pada saat lahir,
seorang bayi memiliki 1.000.000.000.0000
sel otak. Kecerdasan seseorang bukan dipengaruhi oleh volume atau jumlah sel
dalam otak, akan tetapi dipengaruhi oleh jumlah koneksi antara sel-sel otak
tersebut. Agar sel otak tumbuh dan terkoneksi dengan baik, dibutuhkan ‘makanan’
untuk tumbuh kembangnya.
Menurut Dr Tony Buzan, makanan
yang bisa membantu tumbuh kembang otak
anak anda adalah : ONLI (Oksigen, Nutrisi, Love dan Informasi).
O : Oksigen
Sel
otak anak kita membutuhkan suplai oksigen yang banyak agar dapat bekerja dengan
kemampuan yang maksimal. Kebutuhan akan oksigen ini bisa kita dapatakan dari
latihan fisik yang teratur setiap harinya. Berikan kebebasan kepada anak kita
untuk melakukan kegiatan-kegiatan fisik sepanjang tahun-tahun pertama hidupnya.
N : Nutrisi
Nutrisi
tak hanya diperlukan dalam perkembangan fisik anak-anak,tetapi juga berpengaruh
dalam perkembangan otaknya. Sel otak anak anda yang berjumlah jutaan itu perlu
mendapatkan dukungan suplai makanan berupa nutrisi yang baik. Dalam memberikan
makanan kepada anak, jangan hanya berpikir pada kuantitasnya saja tapi yang
terpenting adalah kualitasnya. Apakah sudah memenuhi berbagai macam vitamin
atau belom.
L : Love
Mungkin
selama ini kita kurang menyadari kalau
sebenarnya sebuah kasih sayang itu sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang otak
anak kita. Makanya sering sekali terjadi kasus seperti yang saya ceritakan
diatas, orangtua dengan sangat gampangnya membentak anak atau bahkan melakukan
siksaaan fisik, padahal hal yang terjadi sebenarnya hanya sepele. Dan fatalnya,
justru hal itu berakibat pada terhambatnya pertumbunan otak sang anak, sungguh
sangat disayangkan.
Tentang kasih
sayang ini, ada sebuah kisah tentang dua ekor kera yang bernama Jeepers dan
Ceepers. Jeepers dilahirkan di sebuah kebun binatang oleh ibunya, ibunya sangat
menyayangi Jeepers, kemanapun dia pergi
selalu bersama ibunya, seringkali bercanda tawa penuh kasih. Jeepers hidup
dalam komunitas kera yang saling akrab satu sama lain. Sementara itu Ceepers
hidup dalam sangkar majikannya. Dia hidup tanpa belaian aksih saying dari kedua
orangtuanya. Terkungkung sendirian dalam sangkar majikannya. Setahun kemudian
hari Jeepers dan Ceepers meninggal karena bersamaan karena terserang wabah.
Seorang psikolog kemudian mengotopsi otak keduanya dan menelitinya. Kemduain
ditemukan hasil bahwa otak Jeepers berkembang sangat bagus seperti pohon ek
yang lebat dan banyak cabangnya, sementara otak Ceepers mati dan layu. Itulah
salah satu bukti bahwa ternyata kasih saying dapat membantu menumbuhsuburkan
perkembangan otak anak kita.
I : Informasi
Makanan
otak selanjutnya adalah berupa sebuah informasi. Kecerdasan manusia tidak hanya
dilihat dari seberapa banyak sel otak yang ada di dalamnya, akan tetapi dari
berapa banyak jumlah koneksi yang ada antara sel otak yang satu dengan sel otak
lainnya. Untuk menciptakan koneksi ini dibutuhkan sebuah informasi yang kita
dapat dari lingkungan kita. Sumber utama informasi seorang anak (BALITA) adalah
berasal dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka kepada orangtua atau
pengasuhnya. Untuk itu ketersediaan buku-buku, majalah, video atau media
elektronik lain sebagai sumber informasi sangat penting dalam membantu
merangsang pertumbuhan otak anak kita.