Sya's posts with tag: sk

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag sk
Blog Entrysegera terbit..bukuku..eh kami Jul 20, '08 11:24 PM
for everyone


Sebelum bukunya terbit, nikmati dulu cover kerennya...
Di sini ada artikelku yang terpilih di antologi SK (artikelku ke - 7 yg terpilih di serial antologi SK..hihihi..ngitungin banget yak )
keren banget yah designnya... bravo shabat ESKA !
tak sabarku menunggu terbitnya....

Penulis:
Komunitas Eska

Editor:
Beni Jusuf
Catur Sukono
Retnadi Nur'aini

Pewajah sampul
Listya Arisanti

Pewajah dan Penata LEtak Isi
Novi (khansa'kreatif)



Blog EntryKisah Seorang Ibu Berginjal SatuJun 18, '07 12:52 AM
for everyone

Seluruh keluarga besar dari Ibuku berkumpul di sebuah rumah joglo di desa kelahiran ibuku. Duka menggantung di langit-langit keluarga saat itu. Salah seorang anggota keluarganya dinyatakan mengalami kegagalan fungsi ginjal. Dia adalah kakak laki-laki ibuku atau kami biasa memanggilnya pakde. Pakdeku yang seorang dokter dan kala itu masih menjabat sebagai kepala sebuah rumah sakit daerah di Kota Magelang, tak mampu berkutik ketika vonis gagal ginjal menimpanya. Untuk itulah keluarga besar itu berkumpul. Membicarakan masalah kondisi kesehatannya dan bagaimana solusi yang akan diambil.

 

Semua mata menunduk, ketika terucap kalimat “saya butuh seseorang yang mau mendonorkan ginjalnya untukku..” dari mulut Pakdeku. Kontan suasanya sepi senyap menyeruak ke dalam lingkaran puluhan anggota keluarga yang terduduk diatas tikar rotan anyaman. Dari kesepuluh bersaudara, diketahui ada 4 orang yang memiliki golongan darah yang sama dengan Pakdeku, salah satunya adalah Ibuku. Ibuku adalah anak nomer sepuluh dari sepuluh bersaudara atau biasa disebut anak ragil (bungsu). Pakdeku yang lain yang masuk dalam golongan empat itu secara terang-terangan menolak untuk menjadi pendonor, alasannya adalah karena kondisi kesehatannya sendiri yang  kurang prima. Seorang bude yang dengan lantang berkata “Mbok digenteni duit 5 juta wea aku nggak bakal gelem “ (Walau diganti dengan uang  5 juta saja aku ngga akan mau). Nilai uang senilai 5 juta kala itu (tahun 1981) tentu sebuah nilai uang yang sangat besar. Tapi bude menyatakan dirinya tak sudi andai ginjalnya digantikan dengan nilai uang sebesar itu.

 

Suasana kembali hening. Dalam keheningan sekaligus kesedihan yang sedang menyelimuti keluarga, tiba-tiba Ibuku bersuara lantang “Nggih, kulo purun..  (Ya, saya mau). Kontan semua mata tertuju kearahnya. Tak menyangka bahwa kalimat itu akan muncul dari seorang anak ragil . Kemudian bude-budeku yang lain kembali menanyakan kebenaran kalimat itu “Bener kamu sungguh-sungguh mau menjadi pendonor darah untuk Zaenal?” . Zaenal, nama pakdeku yang terkena vonis gagal ginjal. “Nggih, Insya Allah”. “Tapi piye, anakkmu kan isih cilik-cilik ? opo kowe wis siap ninggal anak-anakmu sing isih cilik iku? (Gimana anakmu kan masih kecil-kecil, apa kamu sudah siap meninggalkan anak-anakmu yang masih kecil-kecil itu?) “ Kali ini giliran kakekku yang meragukan keputusan ibuku. “Insya Allah siap Pak, semuanya kuserahkan kepada Allah semata” sebuah jawaban mantap keluar dari mulut ibuku.

 

Sepulang dari acara kumpul keluarga besar itu. Ibuku dan bapakku mengumpulkan ketiga orang anaknya yang masih BALITA. Bapak kembali mempertanyakan keputusan Ibu “Apakah Ibu sudah mantap dengan keputusan yang Ibu ambil tadi?, kalau ibu tidak mantap, mendingan ibu  mundur saja” Tanya Bapak. “Insya Allah, Ibu mantap Pak. Ibu nitip anak-anak selama proses operasi nanti dan andaikan operasi itu tidak berhasil Ibu percaya bapak mampu membesarkan anak-anak kita nanti” . Setitik airmata menetes di pipi Ibu. Kulihat roman kesedihan juga di wajah bapak. Aku yang kala itu masih berumur 3 tahun sudah bisa memahami bahwa saat itu adalah saat-saat yang mengharukan dan menyedihkan bagi keluargaku. Kakak laki-lakiku saat itu berumur 5 tahun dan adik laki-lakiku berumur 1,5 tahun pun seolah mengerti suasana kesedihan yang sedang terjadi. Kami hanya saling berangkulan, menyadari bahwa setelah itu kami akan ditinggal pergi dalam waktu yang lama oleh Ibu.

 

Keputusan sudah diambil oleh Ibu, kami semua hanya bisa berpasrah dan harus mendukung demi suksesnya donor ginjal yang akan Ibu lakukan. Namun ternyata tak semua orang mau mendukung , banyak pihak yang justru menyuruh Ibu mundur. “Lihat itu anak-anakmu, masih kecil-kecil gitu kok..nanti kalo ada apa-apa gimana? Siapa yang akan merawat dan membesarkan mereka?” seorang bude berkata pada Ibu.  Lain hari teman ibu bahkan melontarkan kalimat pedas “Apa nyawamu rangkap 2? Kok mau-maunya sih mengorbankan ginjalmu untuk orang lain? Kamu diberi uang berapa sih?” . Astagfirullah, ternyata untuk berkorban demi sang kakak  pun Ibu harus menghadapi suara-suara sumbang tak mengenakkan. Tak serupiah pun diberikan untuk mengganti ginjal Ibu. Semuanya dilakukan murni dengan niat menolong sang kakak.

Namun ditengah banyaknya suara-suara yang meragukan niat tulus ikhlas Ibu, Ibu tetap bergeming. Kemantapan sudah mengkristal dihatinya. Kejadian apapun yang akan terjadi semua pasti sudah diskenario oleh Sang Pencipta. Itulah prinsip yang selalu dipegang ibu. Prinsip yang selalu menguatkan langkahnya untuk mengorbankan sebuah ginjalnya kepada sang kakak atas nama sebuah cinta.

 

Akhirnya, di  pertengahan tahun 1982, Ibu berangkat ke RS Cikini Jakarta untuk menjalani proses donor ginjal itu. Beliau berpamitan kepadaku dan kakakku yang akan beliau tinggalkan, Ibu berangkat mengajak adikku yang masih 1,5 tahun dengan diantar oleh Bapak. Sementara aku dan kakaku berada dirumah dengan ditemani paman, adik bapak.

 

     Berbilang bulan lamanya, kami berdua ditinggalkan, Ibu kembali ke rumah setelah proses transplatasi ginjal dan recoverynya selesai. Kami bersatu kembali dengan dengan kerinduan yang telah kami tahan selama beberapa bulan lamanya. Ibu telah kembali. Tapi, kembali dengan kondisi yang tak sama lagi dengan dulu, kini Ibu hanya memiliki satu ginjal.

    

Mungkin karena hanya memiliki satu ginjal, sejak saat itu, kesehatan Ibuku menjadi gampang sekali drop, hampir setiap bulan pasti beliau jatuh sakit. Hari-hari dilalui dengan beberapa penyakit yang menderanya silih berganti. Penyakit demi penyakit seolah telah menjadi kawan akrabnya sehari-hari.  Aku seringkali sedih melihat kondisi ini. Ternyata, pengorbanan Ibu tak cukup sampai proses transplantasi ginjal itu selesai, melainkan terus berlanjut tak mengenal batas akhir.

 

Meski segala penderitaan harus dialami Ibu, Ibu tak pernah menyesal memberikan satu ginjanya untuk kakak tercintanya. Ternyata pakde Zaenal hanya mampu bertahan dengan ginjal pemberian Ibu itu selama 2 tahun saja. Setelah itu beliau dipanggil olehNya. Saat-saat proses sakaratul maut, Pakde sempat memanggil Ibu. Disampaikannya segala rasa terimakasihnya atas segala pengorbanan yang Ibu lakukan untuknya.

 

 

Kini, setelah lewat seperempat abad peristiwa itu terjadi. Aku banyak mengambil ibrah dari semua itu.  Satu pelajaran yang amat sangat berharga telah diajarkan oleh wanita mulia yang telah melahirkanku ke dunia. Pelajaran tentang Pengorbanan, Cinta, Ketulusan dan Keteguhan hati telah diajarkannya kepada kami anak-anak mereka bahkan sejak kami masih sangat muda untuk bisa memahaminya.

 

Seiring dengan perjalanan waktu, kami terus menggali makna yang terkandung di dalam peristiwa itu. Sampai kini kupahami  bahwa untuk menanamkan sebuah pelajaran kepada anak, tak perlu dengan banyak kata-kata, namun bukti langsung melalui sebuah pengorbanan muliamu dan tindak nyata. Semoga, pengorbanan Ibu akan selalu kami jadikan contoh untuk anak cucu kami kelak. Berikanlah khusnul khatimah untuk Ibuku Ya Allah. Jadikanlah Ibuku yang bernama Ibu Syahidah sebagai seorang syahidah sejati.

 

Ibrah dari kisah yang kutuliskan ini saya tujukan terutama untuk diriku sendiri. Adapun jika pembaca pun turut merasakannya, aku berharap para pembaca tak segan-segan untuk turut mendoakan ibuku agar segala pengorbanannya itu menjadikannya sebagai bekal “tiket” yang mengantarkannya ke syurga. Amiin


Blog Entry[Humor Kehidupan ] Insiden Resleting Rusak *May 15, '07 1:58 AM
for everyone


    Pagi itu aku berangkat pagi-pagi sekali. Sarapan dan bekal makan yang telah dibungkus oleh istriku lupa kubawa serta. Jam setengah sepuluh ada janji meeting dengan vendorku, aku  tak mau telat di pertemuan penting itu. Jam delapan kurang aku sudah sampai di kantor, beruntung KRL pagi ini bisa datang tepat waktu sehingga aku tidak terlambat sampai di kantor.

 

Sesampai di kantor seperti biasa aku melakukan “ritual” pagi hariku. Aku langsung menuju ke toilet untuk bersih-bersih muka dan merapikan rambutku dengan minyak rambut. Kenapa aku tidak melakukan ini di rumah? Karena selain tidak sempat karena terburu-buru juga karena alasan aneh bin lucu yaitu kebiasaan istriku yang tidak menyukai aroma minyak rambutku sehingga terpaksa aku memakainya ketika di kantor saja. Pernah kami hampir bertengkar hanya karena masalah sepele ini.  ”Masak ngga mau lihat suaminya tampil rapi sih?” protesku pada istriku kala itu. “Ya bukan begitu, tapi itu lho aku ngga suka aroma minyak rambutmu itu..” jawab istriku ngotot. “Lha trus pakai apa dong , apa pakai minyak kelapa ?” balasku tak mau kalah ngototnya . “Minyak telon !” jawab istriku bersungut-sungut tambah jengkel. Istri yang aneh, batinku. Akhirnya aku mengalah, hanya memakai minyak rambut itu saat di kantor saja.

 

Selesai merapikan tampilan, rasa percaya diriku agak bertambah. Aku siap menghadiri meeting dengan para vendorku. Kebetulan meeting ini aku yang mengundang mereka untuk membahas tentang salah satu project yang sedang kami kerjakan. Setelah beberapa saat meeting dimulai tiba-tiba HIVku kambuh. Bahaya dong kalau penyakit yang satu ini tidak segera ditanggulangi. Meski tidak sampai menyebabkan kematian, Karena HIV yang kumaksud di sini bukan HIV AIDS melainkan HIV = hasrat ingin vivis. .Aku paling tidak suka menahan-nahan buang air kecil.

 

Aku minta maaf  kepada peserta meeting untuk meminta waktu keluar sebentar. Aku segera meluncur ke toilet untuk  menyalurkan hasrat ingin pipisku tadi. Lega rasanya ketika sudah tersalurkan.

 

Ketika aku hendak menarik resleting celanaku ke atas, tiba-tiba resleting itu menyangkut di kain celana. Kucoba menurunkannya kembali perlahan-lahan tapi seret. Ada sedikit rasa panic menggerayangiku, tapi kucoba untuk tetap kalem. Perlahan kucoba lagi menarik resleting itu ke bawah. Lagi-lagi resleting itu tak mau bergerak.   Setelah beberapa menit aku berusaha menarik resleting itu ada temanku yang masuk ke toilet. “Woi.. ngapain boss lama amat di toilet.” . “Jangan mikir yang ngga-ngga dong, ini lho resletingku macet..” Jawabku sedikit kawatir.

 

Hampir sepuluh menit lamanya aku mencoba resleting itu tapi tetap saja tak mau bergerak. Akhirnya aku menyerah. Kukeluarkan kemejaku sehingga menutup bagian resleting celanaku. Aku berjalan pelan-pelan keluar toilet sambil memegang kemejaku agar tidak tetap menutup bagian resleting itu. Kuceritakan kejadian itu kepada teman-temanku di kantor. Mereka malah menertawakanku.  “Gue lagi meeting nih.. gimana dong|?” aku mencoba meminta solusi pada teman-temanku. “Udah sini gue pinjemin celana gue dulu nih..” jawab salah seorang temanku. “Enak aja, celana loe kan kecil, mana muat buat gue…”.

 

Tak ada solusi dari teman-temanku. Akhirnya aku berinisiatif sendiri untuk pergi ke Sarinah, kebetulan kantorku dekat dengan pusat perbelanjaan itu. Siapa tahu  sudah buka toko pakaiannya. Akhirnya aku pergi ke sana berniat membeli celana panjang baru untuk menggantikan yang kupakai sekarang itu. Untung ternyata counter baju executive 99 sudah buka. Tanpa ba bi bu lagi aku langsung memilih salah satu celana dan membelinya. Aku langsung memakainya saat itu juga, dan kembali ke kantor dalam waktu kurang lebih sepuluh menit . Aku kembali ke ruang rapat.

 

Setiba di ruang rapat, sudah  banyak yang menungguku. “Maaf  bapak-bapak ibu-ibu, saya sedang ada urusan urgent tadi..mari kita lanjutkan rapat ini kembali..”  dengan rasa percaya diri kembali aku memimpin rapat itu. Lega rasanya aku terbebas dari kejadian tak mengenakkan itu. Namun ketika rapat berjalan setengah, aku merasakan sesuatu yang tidak enak dengan celanaku.  Bagian paha terasa sangat sempit dan ketat. Hal itu membuatku agak kurang nyaman. Beberapa peserta rapat seperti melihat kegelisahanku, segera kulempar senyum ke mereka untuk memberitahu bahwa aku baik-baik saja. Dan rapat pun usai. Aku segera kembali ke toilet lagi untuk melihat ketidak beresan celanaku ini. “O la la…” jeritku geli ketika melihat model celana yang kupakai ini. Ternyata aku salah pilih. Celana yang kubeli ini adalah model celana pipa yang sepertinya biasa dipakai oleh wanita.

 

Sesampai di rumah istriku hanya cengar-cengir mendengar cerita ku . Aku yang sial, dia yang untung. Karena celana panjang itu sekarang menjadi miliknya. “Sering..sering keliru beli celana ya yah, biar aku sering dapet celana mahal begini” katanya meledekku. Gemes aku, kucubit dia habis-habisan meluapkan kejengkelanku hari itu.

 

* Cerita ini dibuat berdasarkan pengalaman yang dialami sendiri oleh suamiku.

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help