Gejala-gejala
morning sicknessku dulu mulai terasa semenjak usia janin sekitar 2 bulan.
Pada tri
semester pertama itu berat badanku bukannya bertambah, tapi malah turun
sebanyak 1,5 kg. Itu dikarenakan selera makan yang hilang sama sekali,
bagaimana tidak? setiap kali memasukkan makanan kemulut akan langsung keluar
lagi. muntah. Muntah adalah gejala yang sangat sering terjadi padaku saat itu,
tak kenal tempat dan tak kenal waktu.
Awalnya
sih terjadi setiap pagi hari makanya disebut morning sickness itu ya? tapi
lama-kelamaan tak cuma pagi hari, siang hari dan sore haripun aku selalu muntah. Frekuensinya
makin lama makin meningkat. Kadang kala di jalan aku muntah, di dalam angkot,
di kantor bahkan pernah pula di KRL. Aku benar-benar tidak bisa menahannya
kalau isi perut ini sudah berontak mau keluar.
Bukannya
aku tak tahu diri ya kalau tiba-tiba di
tengah jalan, ketika aku berjalan ke stasiun, tiba-tiba aku muntah begitu saja
. Tapi memang aku benar-benar tak bisa mengendalikannya. Harusnya mereka
orang-orang yang di sekelilingku mengerti itu. Tapi kenyataan ternyata tak
seperti itu. Pada suatu sore, ketika aku pulang naik KRL Tanah abang tujuan depok. Kala itu aku muntah di
KRL. Benar-benar aku tak bisa menahannya lagi. Dan apa yang kudapatkan dari
orang-orang sekitar? Mereka kebanyakan memelototiku, ada pula yang bisik-bisik
tak sedap dan ada pula yang menegurku. Padahal itu kejadian benar-benar tak
kuharapkan, tak sengaja dan tak bisa kukendalikan. Oh, kala itu aku merasa
sedih bukan kepalang. Kok begini sih rasanya hamil? Aku masih bisa menahan
segala rasa mual dan eneg di ulu hati. Tapi aku tak mampu kalau harus
menghadapi cibiran orang-orang di sekitarku saat aku tak sengaja muntah di jalan.
Yang
lebih membuatku tak habis pikir adalah, orang yang mencibiriku itu adalah para
wanita. Dimana sih letak hati mereka? Apa sudah ke dengkul ya? Harusnya kan sesama wanita tahu lah, kalau
sedang hamil itu gejala apa saja yang terjadi. Hmm, aku hanya bisa mengurut
dada. Dalam hati sih kecewa.
Untungnya
selama aku hamil waktu itu, suamiku mau mendampingiku kemana saja aku pergi.
Jadi sewaktu-waktu aku muntah di mana saja, dia yang akan sibuk membersihkan
muntahanku. Dia juga
membawakan kantong kresek kemana kami pergi, jadi sewaktu-waktu aku muntah,
kantong itu yang jadi penampungnya. Tapi terkadang belum sempat kita ngeluarin kantong, muntahan sudah menyembur duluan kemana-mana.
Kata orang gejala morning sickness akan berhenti ketika kehamilan mencapai usia trisemester kedua. Tapi kenyataan itu tidak terjadi padaku. Di trisemester kedua rasa mual dan muntahku masih saja ada. Bahkan saat perutku sudah menggelembung besar di usia kandungan yang menginjak 8 bulan, aku masih mengalami muntah juga. Namun lama-kelamaan aku sudah terbiasa dan bisa menikmati setiap helai nasi yang keluar, setiap tetes air yang muncrat. Ikhlas... inilah perjuangan seorang calon ibu kataku.